Komisi IV DPRD Jabar Khawatir Sejumlah Proyek Gagal Total

Komisi IV DPRD Jabar Khawatir Sejumlah Proyek Gagal Total
Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat Daddy Rohanadi khawatir beberapa proyek pembangunan di Jabar gagal total. Khususnya pada rencana pembangunan yang hingga saat ini belum memiliki proyek perencanaan fisik alias Detail Engineering Design (DED)./istimewa

INILAH, Bandung-Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat Daddy Rohanadi khawatir beberapa proyek pembangunan di Jabar gagal total.
Khususnya pada rencana pembangunan yang hingga saat ini belum memiliki proyek perencanaan fisik alias Detail Engineering Design (DED).

Dedi berharap, seharusnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat lebih mematangkan kembali mengenai perencanaan. "Saya kahawatir beberapa pekerjaan lain yang DED nya belum ada
semisal pembangunan alun-alun di beberapa kota/kabupaten," ujar Daddy, Kamis (16/5).

Daddy juga menilai, penanganan Situ Rawakalong akan gatot alias gagal total. Diketahui, Situ Rawakalong merupakan salah satu situ di daerah Kota Depok yang akan
dikembangkan menjadi destinasi wisata di Jabar yang juga akan menjadi salah satu sumber utama pendapatan asli daerah (PAD). 

Pada tahun 2019 ada sejumlah besar anggaran yang dialokasikan dari APBD Provinsi Jabar untuk membenahi situ tersebut. Sayangnya, menurut Daddy, proses yang ada tidak
semulus yang diharapkan.

"Penanganannya bisa gatot (gagal total). Bagaimana mungkin sukses kalau di lokasi yang sama sedang dilakukan pekerjaan pengerukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai
(BBWS)?" ujar Daddy yang juga Sekretaris Fraksi Partai Gerindra ini.

Dalam marketnya, berbagai sarana masyarakat akan berdiri di Situ Rawakalong, dari mulai jogging track hingga plaza. Sayangnya, dia menilai, sejumlah masalah sudah
tampak. Misalnya, kondisi eksisting yang penuh karamba. Wilayah sekitar juga sudah kumuh. Sementara itu, lanjut dia, pekerjaan sudah diburu waktu.

Itu semua menunjukkan perencanaan yang belum matang. Bahkan, hingga saat ini, lelang MK (manajemen konstruksi) di Unit Layanan Pengadaan (ULP) saja terancam gagal.
Dari kondisi yang ada, dia katakan, sedikit mustahil bilamana pengembangan Situ Rawakalong yang direncanakan menelan biaya Rp 30 miliar tersebut bisa terwujud tepat
waktu.

Terlebih dia sampaikan, sangat tidak mungkin jika terdapat dua pekerjaan yang dilakukan secara berbarengan  di lokasi yang sama. 

"Mengapa? Karena BBWS sedang melakukan pengerukan situ tersebut, padahal UPTD harus melakukan pembangunan di atasnya. Intinya, perencanaan belum matang tetapi
dipaksakan. Sebagai catatan saja, ke depan tidak boleh ada lagi pekerjaan dengan tahapan semacam ini. Jangan sampai banyak pekerjaan gatot (gagal total)," pungkasnya.
(Rianto Nurdiansyah)