(Sikap Kami) Politikus Buzzer

(Sikap Kami) Politikus Buzzer
Ilustrasi/Inilahkoran

KEMAJUAN teknologi tak hanya melucuti lapangan kerja, melainkan juga membukanya. Salah satu lapangan kerja yang kini terbuka karena berkembangnya teknologi informasi adalah: buzzer!

Dia hanya pekerjaan, bukan profesi. Sulit untuk disebut profesional karena dia bekerja nyaris mengabaikan etika, terutama bila itu menyangkut buzzer politik. Bagaimana mau beretika kalau tugas mereka adalah mengacaukan suasana, menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah.

Selain buzzer politik, kini muncul pula politisi buzzer. Mereka adalah politikus yang beranggapan kebenaran hanyalah milik mereka dan kelompoknya. Di luar itu salah.

Merekalah yang membuat hiruk-pikuk politik sampai pada kegaduhan paling tinggi. Tugas mereka membuat kesalahan kubu sendiri jadi kebenaran dan menjadikan kebenaran pihak lawan sebagai kesalahan. Dalam konteks Pemilihan Presiden yang prosesnya masih berlangsung, politikus buzzer itu ada di kedua belah kubu.

Mulut mereka berbusa, bau, dan tak malu-malu. Pernyataan mereka pedas, keras, menyudutkan, dan sama bau tak punya malu. Jika kubu mereka salah, jangan harap ada pernyataan maaf dari mereka. Yang ada adalah bagaimana cara mereka tetap memojokkan lawan.

Negeri ini rugi punya politisi seperti itu. Mereka tak berguna sama sekali. Tapi, oleh pemburu kekuasaan di kontestasi pemilihan presiden, peran mereka sama-sama sangat dibutuhkan. 

Merekalah salah satu utama yang memicu keadaan kita jadi begini: saling terkotak-kotak dalam dua kelompok yang tak ada persinggungan, melainkan benturan. Merekalah sesungguh-sungguhnya pencipta kegaduhan yang saat ini begitu terasa.

Sialnya, pers kita, sebagai pilar keempat demokrasi, sebuah posisi yang terhormat itu, pilarnya pun mulai patah. Pers bukan hanya mengakomodasi pernyataan-pernyataan tak bermartabat dan cenderung memperkuat benturan itu, malah sebagian memberi tempat terhormat buat mereka. Itu sebabnya, tiap detik, tiap menit, selalu saja ada pernyataan-pernyataan bau dan konfrontatif politisi busuk itu di media kita.