17 Tahun Teater Senapati Pentaskan Drama Sunda Religi

17 Tahun Teater Senapati Pentaskan Drama Sunda Religi
Teater Senapati pentaskan drama Sunda religi. (Okky Adiana)
17 Tahun Teater Senapati Pentaskan Drama Sunda Religi

INILAH, Bandung - Dalam rangka mengisi kegiatan di bulan Ramadan, seluruh siswa dan mahasiswa umum menggelar 17 tahun Teater Senapati. Acara ini digelar di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Kota Bandung pada 17 dan 18 Mei 2019.

Pentas drama Sunda religi ini digarap secara semi-kolosal, dengan didukung tak kurang dari 50 pemain. Konsep garapnya memadukan seni drama, nyanyian (seni musik), dan seni tari (gerak/koreo), dengan media dialognya menggunakan bahasa Sunda.

Kasidah Cinta Bilal Sang Muadzin merupakan daur ulang dari drama Sunda religi Sunda dengan judul yang sama pada 2007. Pentas ini merupakan rangkaian dari pentas episode Drama Sunda Religi Kasidah Cinta, yang dipergelarkan setiap tahun di bulan Ramadan (sejak 2006) oleh kelompok Teater Senapati SMA Pasundan 3 Bandung.

Dalam rentang 12 tahun sejak tahun 2006, Teater Senapati hanya abstain dua kali untuk mengisi pentas Ramadan, yakni di 2013 dan 2015, karena situasi dan kondisi yang tak memungkinkan. Selain itu para pemain ini juga melibatkan seperti UPI, Unpad, Unpas, UIN SGD, dan sanggar-sanggar teater Bandung dan teman-teman teater profesional.

"Semula ini dari SMA, tapi sekarang sudah bukan lagi menggunakan atau merekrut pemain-pemain dari SMA saja, tapi juga teman-teman teater yang profesional, dari kampus-kampus, seperti UIN Sunan Gunung Djati, Uninus, ISBI, dan lainnya," ucap Sutradara Rosyid E. Abby, kepada INILAH pada (18/5/2019).

Dia menjelaskan, pada masa-masa Islam mulai diperkenalkan di Kota Mekah, Muhammad saw harus menanggung beban dan rintangan yang sangat beratnya karena mendapat penolakan keras dari kaum Quraisy. 

Namun, tak sedikit pula yang akhirnya menjadi pengikut Rasulullah, mengikuti ajarannya, untuk beriman kepada Allah Swt. Salah seorang di antaranya Bilal bin Rabbah, budak dari Habasyah (Abyssinia, Etiopia sekarang), putra Hamamah.

Sedangkan majikannya, Umayyah bin Khalaf Al-Jamhi adalah saudagar Mekah yang sangat kaya, berpengaruh, dan ditakuti/disegani kaum Quraisy Mekah. 

Bilal termasuk golongan orang yang pertama kali masuk Islam, selain Ammar bin Yassir, Yassir, Sumayyah, Shuhaib, dan Al-Miqdad.

Di mata majikannya, kata dia, Umayyah bin Khalaf, Bilal itu hanya sekadar budak belian yang tak punya hak milik terhadap dirinya sendiri. Dia tak boleh masuk Islam, kecuali harus seizin majikannya.

Namun Bilal punya keyakinan, Allahlah yang sesungguh-sungguhnya majikan; majikan bagi dirinya, majikan bagi Umayyah, bahkan majikan bagi semua umat manusia. 

Karena keimanannya itulah Bilal harus mengalami siksaan dari majikannya dan dari orang-orang kafir lainnya. Dia diikat dan ditelentangkan di padang pasir, di bawah teriknya matahari, sementara sebongkah batu besar menindih dadanya yang tipis. 

Dia pun dicambuk untuk tidak mengakui Allah sebagai Tuhannya. Namun, dengan ketabahannya yang luar biasa, tak sekalipun mulut Bilal lepas dari kata-kata "Ahad! Ahad!"

Karena keimanannya itulah, akhirnya Abu Bakar ash Sidiq menebus/membeli dia dari majikannya itu. Bilal kemudian menjadi orang yang selalu dipercaya Rasulullah untuk selalu mendampingi ke mana pun beliau pergi.

Bilal kemudian dipercaya jadi muazin (juru azan) karena suaranya sangat indah dalam melantunkan lafaz-lafaz azan itu. Ketika Perang Badar berlangsung, Bilal pun ikut berjuang dengan pejuang-pejuang Islam lainnya dalam memerangi kaum musyrik, termasuk membunuh Umayah bin Khalaf,  bekas majikannya itu.

"Tujuannya ini menggunakan bahasa Sunda, secara idealnya memelihara bahasa Sunda, yang kedua karena pendekatannya juga ke agama, ya kami ingin masyarakat atau penonton itu penting diperkenalkan kembali dengan cerita-cerita atau dari cerita Islam," imbuhnya.

Dia menambahkan, Teater Senapati didirikan di lingkungan SMA Pasundan 3 Bandung, 8 Mei 2002, oleh Rosyid E Abby dan Wahyu Kelana, sebagai salah satu ekskul (Ekskul Teater) di sekolah itu, dengan Pembina Rosyid E Abby (hingga sekarang). 

Di awal-awal berdirinya, Teater Senapati sempat mengikuti "Pasanggiri Sisindiran" Se-Jawa Barat dan Banten, serta meraih tiga kejuaraan sekaligus, yaitu Juara I untuk tingkat SLTA, Juara I tingkat Umum, dan Juara Favorit. 

Dia berharap, semua elemen bisa memelihara bahasa Sunda, kemudian juga secara agama mereka tahu latar belakang bagaimana Islam itu berkembang dan bagaimana Islam itu bermula ketika Nabi Muhammad menyebarkan pertama kali. (Okky Adiana)