Menyampaikan Nikmat Allah

Menyampaikan Nikmat Allah
K.H Abdullah Gymnastiar. (Net)

Allah Swt berfirman,”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuhâ [93]: 11).
 

Kunci terakhir yang harus kita lakukan supaya amal kebaikan kita disyukuri oleh Allah Swt adalah dengan melakukan Tahaduts bi ni’mah atau membicarakan, mengungkapkan nikmat Allah Swt yang diberikan kepada kita. Sikap ini termasuk sikap syukur terhadap nikmat Allah Swt. Sikap ini bukanlah sikap Riya`.
 
Lantas bagaimana perbedaan sikap menyampaikan nikmat Allah ini dengan sikap Riya`? Syukur itu ketika pengungkapan nikmat Allah Swt dimaksudkan supaya Allah Swt dipuji. Sedangkan Riya` adalah sikap mengungkap kenikmatan yang dimaksudkan supaya diri yang dipuji. Simak contoh ucapan di bawah ini.
 
“Alhamdulillahirobbil’alamin. Saya bersyukur kepada Allah yang selalu membangunkan saya setiap malam. Saya tunaikan Tahajud setiap malam. Hampir tidak ada malam yang luput dari Tahajud yang saya lakukan. Saudara bisa lihat sendiri kan, saya lebih segar dan cerah karena selalu Tahajud setiap malam. Doa saya pun mustajab.” Kita bisa merasakan jenis ucapan apakah ini. Ini adalah contoh ungkapan Riya`. Ungkapan yang bertujuan menyanjung-nyanjung diri sendiri dengan amal keshalehan. Ketika orang ini menyebut nama Allah, ternyata itu hanya pelengkap saja agar terlihat shaleh.
 
Bandingkan dengan percakapan ini, “Mas, saya lihat Mas tahajud setiap malam.” Lalu, orang yang ditanya menjawab, “Alhamdulillah.. Saya sangat bersyukur, setelah saya pelajari atas izin Allah, ternyata Tahajud itu penuh keberkahan. Dan, Allah bener-bener menolong saya untuk bisa bangun malam dan menunaikannya. Ayolah kita coba, insya Allah banyak sekali manfaatnya. Allah yang membangunkan, Allah pula yang menidurkan.”
 
Bisa kita bedakan ungkapan yang pertama dengan yang kedua. Ungkapan pertama sangat kental dengan aroma mengangkat-angkat diri sendiri karena ingin dipuji dan dipandang sebagai manusia shaleh. Sedangkan ungkapan kedua bisa terasa bagaimana orang tersebut menyandarkan dirinya kepada Allah dan bermaksud mengangkat pujian terhadap-Nya. Ungkapan kedua itulah ungkapan syukur.
 
Satu lagi contoh ungkapan Riya`, “Alhamdulillah, ibu bapa sekalian, pada tahun ini saya bisa menunaikan ibadah haji untuk yang ketiga kalinya. Ini adalah karunia Allah. Allah hanya memberangkatkan orang-orang terbaik untuk bisa berhaji lebih dari satu kali. Saya akan mohonkan ampunan kepada-Nya bagi tetangga-tetangga saya yang belum bisa menunaikan ibadah haji.”
 
Lalu, bandingkan dengan ungkapan ini, “Ibu Bapak sekalian, Alhamdulillah dengan seizin Allah, pada tahun ini kami akan berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Kami yakin bahwa keberangkatan kami ini sepenuhnya adalah karena undangan dan kuasa Allah Swt. Rezekinya dari Allah, sehatnya dari Allah. Adapun pada kesempatan ini kami berkumpul bersama ibu bapak sekalian adalah dengan harapan semoga kita semakin yakin pada pertolongan Allah. Kami mohon doa dari ibu bapak sekalian semoga kami dilancarkan dalam perjalanan ini. Karena kami tidak tahu apakah kami akan kembali lagi atau tidak, semoga ibu bapak berkenan memaafkan salah dan khilaf kami. Allah Maha Melihat kepada kita saat ini, semoga Allah mengundang semua yang hadir di tempat ini untuk bertamu ke tanah suci. Amin.”     
 
Bisa kita rasakan makna yang ada di dalam ungkapan kedua di atas. Kita lebih nyaman menyimaknya. Kita bisa menerimanya dengan sangat tentram di dalam hati kita. Inilah ungkapan syukur. Ungkapan yang menjadikan Allah saja sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disanjung dan dipuji.
 
Suatu ketika, Rasulullah Saw pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan bertentangan dengan segala kenikmatan yang dimilikinya. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Al Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah Saw dengan mengenakan pakaian yang lusuh dan kumal. Penampilannya membuat orang yang melihat kepadanya menjadi sedih dan kasihan. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah pun bertanya kepadanya, “Apakah engkau memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Setelah mendengar jawaban sahabatnya itu, maka Rasulullah berpesan kepadanya, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.”
 
Kisah di atas menerangkan kepada kita bahwasanya menyebutkan atau mengungkapkan nikmat Allah Swt itu tidak hanya dengan cara mengucapkannya, akan tetapi juga bisa dengan menampilkannya tanpa maksud sombong atau pamer. Syukurilah nikmat yang dianugerahkan Allah Swt itu dengan memakainya, bukan bersikap pura-pura miskin.
 
Jika kemudian kita lebih memilih bersikap untuk tidak mengungkapkan nikmat Allah Swt karena kekhawatiran akan timbulnya rasa iri dengki pada diri orang lain, maka sikap kita itu tidak terkategori sebagai kufur nikmat terhadap Allah Swt. Sungguh, Allah Swt Maha Tahu apa yang nampak dan yang tersembunyi pada diri kita. (KH Abdullah Gymnastiar)