Usai Vonis, Kasus Baru Menanti Sunjaya

Usai Vonis, Kasus Baru Menanti Sunjaya
Kasus korupsi Sunjaya Purwadisastra masih berlanjut. (Bambang Prasethyo)

INILAH, Bandung- Meskipun vonis bersalah sudah dijatuhkan majelis, Kasus korupsi Sunjaya Purwadisastra masih berlanjut. KPK saat ini tengah mendalaminya. Salah satunya penerimaan dari kontraktor PLTU II Cirebon senilai Rp 6,5 miliar.

"Masib ada sprindik (surat perintah penyidikan) yang lain. Saat ini tengah berjalan, soal penerimaan lainnya," kata Koordinator JPU KPK Iskandar Marwanto usai persidangan di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (22/5/2019). 

Iskandar menjelaskan, penerimaan lain hasil dugaan korupsi tersebut saat ini masih dalam proses penyidikan, sumbernya ada dari perizinan ataupun lainnya. Semua hasil pengkajian fakta, barang bukti dan alat bukti yang terkumpul. 

"Jadi ada penerimaan lain yang kita kaji dari pembuktian (persidangan). Ada juga yang belum dibuktikan, semua kita kaji," katanya. 

Disinggung soal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Iskandar mengaku belum ke arah sana. Saat ini pihaknya masih fokus ke penerimaan lain dari hasil korupsi. 

Iskandar pun membeberkan salah satu penerimaan lain yang dilakukan Sunjaya dan tengah didalami, yakni soal penerimaan dari PT Hyundai Engineering Coorporation  (HDEC) selaku kontraktor pembangunan PLTU II Cirebon. 

"Termasuk itu salah satunya. Kemarin sudah menjadi fakta juga (persidangan). Tapi akan kita kaji lagi," katanya. 

Di persidangan terungkap  kontraktor pembangunan PLTU II Cirebon Hyundai Engineering Corporation (HDEC) diminta untuk memberikan uang kepada Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra sebesar Rp 9,5 miliar. Namun baru terealisasi Rp 6,5 miliar dan uangnya sebagian dibagi bagi untuk aparat keamanan, LSM yang melakukan demo terkait pembebasan lahan untuk PLTU II Cirebon.

Uang tersebut dikucurkan Hyundai dalam beberapa kali termin. Hyundai merupakan kontraktor utama yang menangani pembangunan PLTU 2 sampai kelak dioperasikan. PLTU 2 diketahui berkapasitas 1.000 MW.

Dalam persidangan, Sunjaya membela diri, uang itu merupakan uang pengganti dari Hyundai setelah berhasil membebaskan tanah untuk pembangunan PLTU 2. Bahkan dia hanya mengaku mendapatkan uang Rp 925 juta melalui Rita.

Bahkan Sunjaya juga mengaku sempat melakukan pertemuan dengan utusan dari PT Hyundai bernama Heru yang intinya meminta agar kepolisian dan TNI diperhatikan karena ikut mengamankan proyek tersebut termasuk dari gangguan para pendemo. 

“Saya cuman meminta bantuan agar aparat diperhatikan karena saat itu kami ditagih terus oleh aparat, dikira saya dapat bagian dari proyek tersebut. Namun pa Heru mengaku tidak bisa memberi langsung tapi nanti dititipkan melalui pemenangan proyek,” ujarnya.(Ahmad Sayuti)