Turunlah, Wahai Bapak Bangsa

Turunlah, Wahai Bapak Bangsa

DENGAN segala kerendahan hati, kami mengajak, mengundang, memohon para bapak bangsa, tokoh yang dihormati keseluruhan masyarakat, untuk turun gunung. Negara sedang membutuhkan bapak-bapak.

Apa yang terjadi utamanya di Jakarta, juga di sejumlah kota seperti Pontianak dan Medan, akan sulit diselesaikan tanpa kehadiran bapak-bapak. Tak mungkin menyelesaikannya secara utuh karena sebagian bangsa mendekati keterbelahan. Sulit mencari pihak yang bisa menyelesaikannya karena siapapun yang terjadi di lapangan saat ini sudah saling curiga –betapapun besar kecil kadarnya. Punya tendensi masing-masing.

Kepada sebagian aparat, fakta di lapangan tak sedikit yang bercuriga. Takkan mungkin menuntaskan persoalan. Hanya meredam kekerasan, tapi tidak berkecurigaan.

Kepada politisi apalagi. Tak hanya kepada kader kelas bawah sampai elit politik, keterbelahan itu sudah nyata terlihat. Tak ada yang mau mengalah. Semua mau benar sendiri, menang sendiri. Sudah sulit bagi rakyat untuk percaya pada mulut dan tindakan politisi.

Hanya kepada bapak-bapak bangsa, bapak-bapak yang tak punya kepentingan kecuali bangsa ini jangan sampai terbelah, masyarakat punya harapan. Bapak-bapak yang bisa jadi panutan. Bapak-bapak yang bisa menyelesaikan, tanpa bebatuan, tanpa bom molotov, tanpa gas air mata, tanpa peluru karet, tanpa pentungan.

Turunlah bapak-bapak. Tinggalkanlah kampus-kampus untuk sementara waktu. Tinggalkanlah sebentar pondok pesantren, madrasah, tempat pengajian. Tinggalkanlah sejenak gereja, vihara, pura. Tinggalkan masyarakat adat. Tinggalkanlah tempat permenungan. Tinggalkanlah pertapaan. Negara sedang membutuhkan Anda. Hanya bapak-bapak yang didengar karena tanpa kepentingan pribadi.