Harga Sayuran di Cianjur Melambung hingga 100 Persen

Harga Sayuran di Cianjur Melambung hingga 100 Persen
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Cianjur- Harga sayuran di sejumlah pasar tradisional Cianjur, Jawa Barat, mengalami kenaikan hingga 100 persen. Mulai dari wortel, kol, sawi putih, lobak, dan bawang daun.

Harga wortel yang biasanya dijual Rp5.000 perkilogram, saat ini naik menjadi Rp 10.000 perkilogram, sedangkan untuk harga sawi putih biasa dijual Rp4.000 naik menjadi Rp8000 perkilogram.

"Tidak hanya wortel dan sawi putih, untuk bawang daun naik menjadi Rp14.000 perkilogram," kata Herni (41) seorang pedagang sayuran di Pasar Induk Pasirhayam Cianjur pada wartawan Kamis.

Sedangkan untuk harga kol dari Rp5.000 menjadi Rp7.000 perkilogram dan lobak dari Rp5.000 naik menjadi Rp8.000 perkilogram. Harga sayur mayur tersebut merangkak naik sejak satu hari bulan puasa.

"Semua harga sayuran dari hari pertama bulan ramadhan mengalami kenaikan hingga saat ini harganya belum turun, meski ada beberapa sayuran yang turun itu pun kembali naik," katanya.

Dia mengungkapkan kenaikan harga sayuran tersebut berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana harga sayur pada pertengahan puasa sudah turun, namun kali ini belum kunjung turun.

"Naiknya harga sayuran tersebut mungkin disebabkan tingkat kebutuhan sayuran di bulan puasa meningkat. Selama ini pasokan sayuran yang dikirim dari Cipanas berjalan normal," katanya.

Ia menjelaskan, sejak terjadinya kenaikan harga berbagai jenis sayuran itu, membuat omset pedagang menurun, abhakn tidak sedikit yang merugi karena minimnya penmbelin, sehinga stok sayuran menjadi busuk dan terpaksa dibuang.

"Bukan hanya pembeli, kami penjual berharap harga sayuran kembali normal agar tingkat penjualan kembali stabil dan meningkat dan pedagang tidka merugi karena stok sayuran yang busuk," katanya.

Sementara Hendi Komaladi supliyer sayur mayur untuk sejumlah toko swalayan di Jabodetabek, terpaksa mencari sayuran yang dibutuhkan langsung ke petani agar tidak merugi karena harga melambung sejak dua hari terakhir.

"Hanya satu cara langsung turun ke petani agar mendapatkan harga yang sesuai dan tidak merugi. Kenaikan harga diperkirakan karena tingginya pemakaian selama bulan puasa, sehingga harga melambung meskipun stok di petani cukup banyak," katanya.

Ia berharap kenaikan harga tidak terus terjadi karena saat ini, harga beli di tingkat petani mulai mengalami kenaikan karena seiring tingginya permintaan dari pembeli yang datang langsung. (Antara)