Pamong Budaya Bogor Revitalisasi Kesenian Blantek

Pamong Budaya Bogor Revitalisasi Kesenian Blantek
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Kesenian blantek cikal bakal dari kesenian Betawi yang hampir putus generasi atau punah membuat Pamong Budaya Bogor mengambil langkah merevitalisasi kesenian tersebut.

Ketua Pamong Budaya Bogor Sumantri mengatakan kesenian blantek perlu direvitalisasi karena hampir putusnya regenerasi pelaku kesenian ini. Terlebih, hampir seluruh pelaku seni ini berusia di atas 50 tahun.

"Kami bersama penggiat seni tari, drama dan seno lainnya yang tergabung dalam Pamong Budaya Bogor sejak 17 Mei hingga 23 Juni nanti akan merevitalisasi kesenian blantek ini," kata Sumantri kepada wartawan, Jumat (24/5/2019).

Dia menambahkan, bersama teman-teman di Pamong Budaya Bogor akan 'menggali' ilmu kesenian blantek lalu ditularkan ke seniman muda baik warga Parung ataupun dari kecamatan  lainnya untuk nantinya dilestarikan.

"Agar kesenian blantek ini terus lestari kami menggali ilmu dari pemain kesenian blantek lalu disaat yang sama kami ajarkan atau tularkan kepada seniman-seniman muda, semoga ini menjadi cikal bakal kebangkitan kesenian blantek karena di Parung yang sudah majemuk masyarakatnya juga banyak tidak mengenal kesenian ini padahal ini asli kesenian Desa Waru Kecamatan Parung," tambahnya.

Sumantri menjelaskan kesenian blantek berasal dari kata rebana bian dan tek, lalu ditambahkan alat musik lainnya seperti gebyung dan tehiyan (alat musik gesek dari Cina).

"Kesenian blantek itu cikal bakal gambang kromong atau lenong Betawi karena ada permainan musik, seni peranm dan seni tari. Kami juga melibatkan sejarahwan agar cerita-cerita yang diangkat nanti memuat sejarah Bogor dan Betawi ora (pinggiran)," jelasnya.

Ia melanjutkan agar revitalisasi kesenian blantek ini berjalan maksimal, Pamong Budaya Bogor dalam waktu dekat akan audiensi dengan Bupati Bogor Ade Yasin untuk meminta dukungan dan legitimasi bahwa kesenian blantek ini asli dari Kabupaten Bogor.

"Kita harus akui sebagian masyarakat wilayah Kabupaten Bogor seperti Parung, Gunung Sindur, Ciseeng, Kemang, Bojonggede, Cibinong, Citeureup dan lainnya yang berbatasan dengan Kota Depok, Bekasi, Tanggerang dan DKI Jakarta itu banyak yang orang betawi ora hingga kesenian dan budaya kita pun campur antara sunda dan betawi. Insya Allah Bupati Ade Yasin mendukung langkah revitalisasi kesenian blantek ini," lanjutnya. 

Terpisah Ki Kiwong dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi PB NU) mengaku cukup kesulitan merevitalisasi kesenian blantek ini karena pelaku seninya yang rata-rata berusia uzur.

"Kami cukup kesulitan dalam menggali lebih dalam kesenian yang termasuk purba atau lebih tua dari gambang kromong karena pelaku kesenian blantek hanya mengikuti ajaran ayah atau kakeknya tanpa disertai pakem. Untuk melengkapi apa itu kesenian blantek kami harus mencari kelompok lainnya baik di Kabupaten Bogor, Kota Depok maupun Tanggerang karena ada kemungkinan kesenian blantek ini berkembang ke daerah sekitar Parung," tukas Ki Kiwong. (Reza Zurifwan)