Menggerakkan dengan Hati

Menggerakkan dengan Hati
K.H Abdullah Gymnastiar. (Net)

SAUDARAKU, boleh jadi selama ini sebagian dari kita beranggapan bahwa menjaga kebersihan hati itu hanya identik dengan bersikap lemah lembut.

Kita mengaggap hati berkaitan dengan berbicara dengan nada suara yang pelan, atau bertindak dengan kelemahlembutan. Sehingga hampir saja sebagian dari kita berpandangan bahwa kebersihan hati itu tidak identik dengan ketegasan.

Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Kebersihan hati adalah pekerjaan hati. Bagi orang yang beriman, ada kalanya diperlukan sikap yang tegas, bahkan sewaktu-waktu bisa cenderung keras. Namun, di waktu yang lain diperlukan juga sikap lemah lembut. Akan tetapi, semua ini dilakukan dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt.

Bukankah Rasulullah Saw. adalah manusia yang paling mulia dan bersih hatinya, namun beliau juga terjun langsung dalam peperangan demi menegakkan kalimat tauhiid. Namun, di waktu yang lain, ucapan dan perbuatan beliau pun adalah yang paling lemah lembut. Sekalipun dihina, disakiti oleh tetangganya seorang Yahudi, namun Rasulullah Saw. adalah orang pertama yang menjenguknya dikala Yahudi itu sakit. Demikianlah.

Seorang ayah yang mendidik anaknya yang beranjak remaja, mungkin akan berhadapan dengan banyak ujian. Boleh jadi anaknya masih sulit dididik karena masih membawa sifat kekanak-kanakkan. Namun, hal itu tiada lain adalah lahan ibadah bagi sang ayah.

Sayang kepada anak bukan berarti hanya berupa sikap lemah lembut, dan memenuhi segala keinginannya. Melainkan juga berupa penerapan aturan dan ketegasan dalam menegakkannya. Sedangkan ketegasan itu tak berarti keras. Ketegasan bisa dikemas dalam kelembutan.

Saudaraku, apa yang datang dari hati, akan sampai ke hati. Seorang bos yang tidak memakai hati, akan merasa dirinyalah yang paling berjasa membuat kesempatan bekerja untuk bawahannya, menggaji mereka dan mengelola perusahaan agar tetap bertahan. Karena tak memakai hati, ia pun bisa dengan sesukanya tunjuk sana tunjuk sini, seenaknya memarahi.

Padahal apalah artinya dia jika hanya sendirian tanpa dibantu karyawannya. Pemimpin yang demikian hanya sedang menanam ranjau di tempatnya sendiri yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Kebersihan hati, ketulusan niat, kesungguhan menjalankan setiap aktifitas sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt., akan membawa seseorang pada perilaku yang terjaga dan terarah karena Allah akan membimbingnya. Saat ia bersikap lemah lembut dan saat ia bersikap tegas bahkan keras sekalipun, ada kebersihan hati yang melatarbelakanginya. Sehingga ucapan dan perbuatannya senantiasa terbingkai dalam koridor lillaahi ta’ala.

Inilah hati yang akan menjadi sumber tenaga. Inilah hati yang akan menggerakkan dan memperbaiki. Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita sehingga kita kelak bisa kembali kepadanya dalam keadaan hati yang bersih. Qolbun saliim. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin. (KH Abdullah Gymnastiar)