Akulturasi Budaya di Masjid Lautze 2 Kota Bandung

Akulturasi Budaya di Masjid Lautze 2 Kota Bandung
Akulturasi budaya di Masjid Lautze 2 Kota Bandung. (Net)

INILAH, Bandung - Akulturasi budaya dalam suatu wilayah kerap memunculkan kekayaan dalam pelbagai hal. Satu di antaranya bisa ditemukan dalam gaya arsitektur bangunan yang mengandung unsur ragam budaya. Misalnya, masjid yang bernuansa arsitektur Tionghoa.

Dalam sejumlah catatan, hubungan antara masyarakat Nusantara (Indonesia) dengan Cina (Tionghoa), jika dikaji menggunakan pendekatan sejarah, sudah terjalin sejak abad ke-5 melalui jalur perdagangan, atau dengan kata lain terjadi pada masa sebelum penyebaran agama Islam berlangsung di Indonesia, dan jauh sebelum kedatangan Belanda.

Hal tersebut juga bisa kita jumpai di Kota Bandung. Akulturasi budaya antara Muslim dan Tionghoa seakan terekam pada gaya arsitektur bangunan dua masjid ini:

Masjid Lautze 2

Masjid Lautze 2 adalah masjid dengan gaya arsitektur Tionghoa, terletak di Jalan Tamblong No 27 Bandung. Masjid ini didirikan pada bulan Januari tahun 1997 oleh H Ali Karim dan dikelola oleh Yayasan Haji Karim Oei (YHKO).

Masjid ini merupakan masjid tertua yang dibangun oleh muslim keturunan Tionghoa yang bermukim di Bandung. Penamaan masjid Lautze diambil dari nama jalan di Jakarta tempat kantor pusat YKHO (Jl Lautze No 87-89 Pasar Baru, Jakarta Pusat).

Begitu pun awal berdirinya, masjid Lautze berada di Jakarta sehingga Masjid Lautze yang didirikan di Bandung diberikan nama Masjid Lautze 2 untuk membedakannya dengan yang ada di Jakarta.

Selain menjadi fasilitas ibadah umat Islam, Masjid Lautze 2 juga menjadi pusat informasi Islam bagi warga Tionghoa, baik yang sudah menjadi muslim atau yang sedang mempelajari Islam.

Masjid ini memiliki ukuran 7 kali 6 meter, dan memiliki daya tampung 200 orang jamaah. Interior masjid didominasi dengan warna merah, serta hiasan lampu lampion khas Tiongkok.

Jika pada bulan Ramadan warga Bandung sedang melintas di Jalan Tamblong pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, pasti akan menjumpai keramaian di masjid ini karena sedang berlangsung ibadah salat Isya dan Tarawih.

Kedua masjid tersebut merupakan akulturasi budaya antara Nusantara, Cina, dan Muslim. Menjadi simbol persatuan bangsa bahwa negara ini begitu kaya akan budaya.

Warga Bandung, mari kita manfaatkan momentum Ramadan ini untuk mempererat persatuan dan kesatuan. Karena walau berbeda-beda, kita tetap satu Indonesia. (Suro Prapanca)