Stunting Bisa Sebabkan Kemiskinan Antargenerasi

Stunting Bisa Sebabkan Kemiskinan Antargenerasi
Orang tua mesti menyiapkan kebutuhan gizi anak minimal 1.000 hari sebelum masa kelahirannya.

INILAH, Jakarta – Orang tua mesti menyiapkan kebutuhan gizi anak minimal 1.000 hari sebelum masa kelahirannya.

Hal itu dilakukan agar sang buah hati tidak terlahir stunting yang berdampak kepada terlambatnya tumbuh kembang mereka, terutama tinggi badan mereka menjadi lebih pendek jika dibandingkan dengan teman-teman sebaya mereka saat sudah mencapai usia dua tahun.

Badan yang pendek merupakan indikasi jika anak memiliki masalah gizi. Anak yang pendek menunjukkan pertumbuhan badannya kronik. Hal ini terjadi saat anak masih berada di dalam kandungan dan ternyata menjadi salah satu indikator yang dapat memprediksi kematian anak.

Manajer Penelitian SEAMEO Recfon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Grace Wangge mengatakan, akar masalah stunting terbagi ke dalam beberapa variabel yaitu kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, serta pendidikan.

“Yang paling utama adalah masalah pola asuhan dan status infeksi kesehatan anak. Tapi kalau dirunut, semua masalahya terkait kemiskinan,” kata Wangge kepada wartawan dalam diskusi media di Jakarta, Sabtu (25/05/2019).

Dia menjelaskan, stunting bukan hanya menjadi masalah anak yang terkena melainkan merupakan masalah trans generasi dimulai dari si ibu pada masa sebelum kehamilan sampai sang anak lahir. Jika kondisi ibu pada saat prahamil berbada kurus, pendek, dan anemia maka pada saat hamil kondisinya tidak akan jauh berbeda dan hanya sedikit saja mengalami kenaikan berat badan.

Tentu saja itu berbahaya bagi janin yang sedang dikandungnya karena akan mengganggu perkembang otak si jabang bayi, mengganggu pertumbuhan badan, dan metabolismenya. Selain itu saat si anak sudah lahir maka kondisi daya tahan fisiknya akan menurun, begitupun dengan kemampuan kognitifnya, di samping postur tubuh yang tidak ideal dan akan mudah terserang penyakit tidak menular.

“Dampaknya kepada masyarakat, produktivitas akan menjadi lambat. Sehingga berpotensi kehilangan 11% GDP, mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%, memperburuk kesenjangan ekonomi, mengurangi 10% total pendapatan seumur hidup, dan menyebabkan kemiskinan antargenerasi,” kata Wangge. (Daulat F Yanuar)

Loading...