Keluarga Perokok Berat Berpotensi Lebih Besar Lahirkan Anak Stunting

Keluarga Perokok Berat Berpotensi Lebih Besar Lahirkan Anak Stunting
Keluarga yang memiliki anggota perokok berat berpotensi akan melahirkan anak yang menderita stunting.

INILAH, Jakarta – Keluarga yang memiliki anggota perokok berat berpotensi akan melahirkan anak yang menderita stunting.

Pasalnya belanja rokok merupakan pengeluaran terbesar ketiga rumah tangga yang porsinya bisa menghabiskan 12,4% dari total seluruh anggaran belanja.

Peneliti Utama SEAMEO Recfon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Umi Fahmida mengatakan, belanja rokok dalam sebuah rumah tangga setara dengan akumulasi belanja sayur-mayur (8,1%) serta belanja susu dan telur (4,3%).

“Jika belanja rokok disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang tersebut dapat dibelikan sesuatu yang berguna seperti ikan, daging, dan buah,” kata Umi kepada wartawan dalam diskusi ‘Stunting dan Tantangan Indonesia Generasi Emas’ di Jakarta, Sabtu (25/05/2019).

Sementara Manajer Penelitian SEAMEO Recfon Kemendikbud, Grace Wangge memaparkan, berdasarkan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) pengeluaran untuk rokok mengalami kenaikan dari 3,6 persen pada 1993, menjadi 5,6 persen pada 2014.

Kenaikan pengeluaran untuk rokok tersebut dibarengi dengan penurunan proporsi pengeluaran untuk makanan sumber protein seperti ikan dan daging, dari 10,1 persen pada 1993, menjadi 7,8 persen pada 2014.

“Sehingga, anak yang berasal dari orang tua perokok kronis, berpeluang 5,5% lebih akan terkena stunting. Bagaimana tidak, konsumsi rokok naik tapi pendapatannya ada kemungkinan menurun. Lagi-lagi, faktor kemiskinan yang berperan di sini,” katanya.

Selain faktor keluarga perokok, Wangge juga menyebut stunting juga disebabkan oleh faktor keturunan. Seorang ibu yang pendek, kelak juga berpeluang melahirkan anak stunting. “Yang mesti dipahami cegah stunting sejak dini, untuk itu diperlukan support system, termasuk lewat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah,” pungkasnya. (Daulat F Yanuar)