Kejar Rp4,58 Triliun, KPK Petakan Aset Sjamsul

Kejar Rp4,58 Triliun, KPK Petakan Aset Sjamsul
Juru Bicara KPK, Ferbri Diansyah (kiri). (Antara Foto)

INILAH, Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memetakan aset milik Sjamsul Nursalim dan Itjih, tersangka kasus dugaan korupsi Penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI).

Penelusuran dan pemetaan aset ini dilakukan untuk menentukan aset yang bakal dirampas sebagai upaya memulihkan kerugian keuangan negara Rp 4,58 triliun akibat tindak pidana korupsi yang dilakukan pasangan suami istri tersebut.

"Asset tracing sudah mulai dilakukan oleh tim sejak kami memproses satu orang pertama sebagai tersangka. Waktu itu SAT (Syafruddin Arsyad Temenggung) yang kemudian sudah diputus sampai Pengadilan Tinggi," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (11/6/2019).

Syafruddin adalah mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin telah dijatuhi hukuman 15 tahun pidana penjara dan denda Rp1 miliar subsider 3 bulan kurungan oleh Pengadilan Tinggi DKI dalam putusan banding atas perkara korupsi SKL BLBI.

"Tentu kebutuhan untuk melakukan asset tracing yang lebih maksimal. Maksimal dalam artian sebaran maupun jumlahnya karena dugaan kerugian negara dan dugaan tersangka diperkaya Rp 4,58 triliun itu secara maksimal lebih dilakukan pada proses penyidikan ini," katanya.

Diketahui, Sjamsul dan Itjih telah menetap di Singapura sejak beberapa tahun lalu. Meski demikian, aset dan bisnis Sjamsul diketahui masih berjalan di Indonesia.
Sjamsul memiliki sejumlah bisnis di bidang properti, batubara dan ritel. Salah satunya, PT Gajah Tunggal Tbk. Nama Sjamsul saat ini memang tidak tertera sebagai pemilik atau tercantum dalam struktur perusahaan Gajah Tunggal.

Namun, mantan Presdir PT Gajah Tunggal itu diduga masih mengendalikan produsen ban tersebut. Ruang lingkup kegiatan perusahaan yang melantai di bursa dengan kode emiten GJTL ini meliputi bidang pengembangan, pembuatan dan penjualan barang-barang dari karet, termasuk ban dalam dan luar segala jenis kendaraan, flap dan rim tape serta juga produsen kain ban dan karet sintesis.

GJTL memproduksi dan memasarkan ban dengan merek Zeneos dan GT Radial. Tak hanya itu, Gajah Tunggal memiliki sejumlah anak usaha di antaranya PT Softex Indonesia (pembalut wanita), PT Filamendo Sakti (produsen benang), dan PT Dipasena Citra Darmadja (tambak udang, sewa gudang).

Nursalim selain itu juga menguasai saham Polychem Indonesia yang sebelumnya bernama GT Petrochem. Sjamsul juga diduga memiliki saham mayoritas di Mitra Adiperkasa, usaha tersebut menaungi sejumlah merk ternama seperti Sogo, Zara, Sport Station, Starbucks, hingga Burger King. Tak hanya itu, Sjamsul juga memiliki saham di Tuan Sing Holding, perusahaan properti yang berbasis di Singapura.

Febri mengatakan, untuk aset-aset di dalam negeri, KPK dapat menggunakan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Sementara, untuk aset Sjamsul di luar negeri, KPK menjalin kerja sama dengan institusi dan otoritas setempat.

"Karena ada perjanjian-perjanjian atau dalam konteks aturan internasional saya kira memungkinkan dilakukan. Dan selama ini dalam kasus yang lain, KPK juga bekerja sama dengan cukup baik dengan otoritas negara yang lain," katanya.

Dalam penanganan kasus SKL BLBI ini, KPK memprioritaskan untuk memulihkan kerugian negara. Untuk itu, KPK sudah siap menempuh peradilan in absentia atau peradilan tanpa dihadiri terdakwa. Hal ini lantaran Sjamsul dan Itjih tak menunjukkan itikad baik untuk koperatif dalam proses hukum kasus SKL BLBI yang kini menjerat mereka. (Inilah.com)