DPR Desak Pemerintah Abaikan Pasar China

DPR Desak Pemerintah Abaikan Pasar China
Foto: Net

INILAH, Jakarta - Selama perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, ekspor produksi dari industri manufaktur harus segera berpindah dari China ke menyasar pasar di Vietnam, Kamboja, dan Malaysia.

Sayangnya, menurut Anggota Komisi V DPR, Bambang Haryo Soekartono, pemerintah Indonesia tidak mampu memanfaatkan celah keuntungan dari perang dagang AS-China. Ia juga menyatakan tidak sependapat dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia mengalami penurunan akibat perang dagang tersebut.

"Menkeu dan Menko Perekonomian selalu mengatakan, penurunan ekonomi akibat adanya perang dagang Amerika dengan China. Saya tidak sependapat. Dengan peran dagang banyak sekali industri manufaktur yang ekspor dari China pada berpindah ke Vietnam, Kamboja, dan Malaysia. Seharusnya Indonesia bisa mendapatkan kesempatan yang sama dan dimanfaatkan betul oleh pemerintah," jelasnya dalam Rapat Paripurna DPR RI, di Gedung DPR RI, seperti mengutip dpr.go.id.

Justru menurut politisi Partai Gerindra ini, Vietnam adalah salah satu negara yang diuntungkan dengan perang dagang itu. Pada kuartal I 2019, industri di Vietnam menguat 86 persen. dan 50 persennya bersumber dari China. "Saya sampaikan, ekspor Indonesia ke China 2012 sebesar 18,4 miliar dolar AS," jelasnya.

"Di 2018 mencapai 27,13 milair dolar AS. Berarti China yang dikorbankan oleh Amerika masih punya pasar yang bagus untuk Indonesia. Apa yang disampaikan Menkeu tidak benar. Ini pembohongan kepada masyarakat alias hoaks. Ini harus diluruskan," tegasnya. (INILAHCOM)