Masalah Sentul City Berlarut, Kemenpolhumkan Turun Tangan

Masalah Sentul City Berlarut, Kemenpolhumkan Turun Tangan
(Rizki Mauludi)

INILAH, Bogor- Berlarutnya masalah di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, membuat Kementerian Politik Hukum dan Ham (Kemenkopolhukam) ikut turun tangan.

Kemenpolhukam memediasi pihak Sentul City dengan warga yang menuntut di Izin Hotel, Kecamatan Bogor Timur, Senin (17/6/2019) pagi WIB. Pertemuan itu dilakukan setelah manajemen PT Sentul City Tbk (PT SC) mengambil langkah meminta perlindungan hukum ke negara.

Pihak Sentul City melayangkan surat ke Presiden RI terkait keluarnya putusan  kasasi  Mahkamah Agung Nomor : 3145 K/Pdt/2018. Langkah tersebut dilakukan karena jika putusan MA dilaksanakan berimplikasi pada dua masalah besar.

"Pertama adalah kami mendapat ancaman hukum dari 7.000 warga Sentul City yang selama ini tidak ada masalah dengan pengelolaan township management. Realitas yang ada mayoritas warga Sentul City ingin pengelolaan township management jalan terus, bisa dicek di lapangan. Yang kedua, jika kami menghentikan pelayanan township management apakah Pemkab Bogor mau menggantikan peran kami untuk membiayai semua pelayanan yang selama ini kami berikan?," ungkap Head of Corporate Communication PT SC Alfian Mujani kepada awak media pada Senin (17/6/2019).

Alfian melanjutkan, tidak ada maksud PT SC melakukan pembangkangan terhadap hukum, apalagi masih ada langah hukum terakhir yang tengah dipersiapkan yakni Peninjauan Kembali (PK). Untuk itu, PT SC mengapresiasi langkah Presiden yang telah merespon surat permohonan perlindungan hukum PT SC dengan Kemenko Polhukam memanggil para pihak untuk mencari jalan keluar masalah tersebut pada Senin (17/6) di Hotel IZI, Kota Bogor.

"Terkait pengelolaan lingkungan kawasan hunian Sentul City, hal tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) yang diteken kedua belah pihak yaitu konsumen sebagai pembeli dengan pengembang sebagai penjual. PPJB adalah hukum yang mengikat kedua belah pihak. Jadi sejatinya warga Sentul City yang membeli rumah pada kami sadar, mengerti dan setuju secara hukum bahwa pengelolaan lingkungan itu atau yang kami sebut  township management dikelola oleh kami secara profesional," jelasnya.

Alfian menjelaskan, PT SC sebagai pengembang, tidak sendirian, karena konsep township management dikembangkan juga oleh pengembang-pengembang besar lain seperti Sinar Mas Group, Citra, Summarecon Group. Sementara BSD, Gading Serpong, Citra Raya mengelola lingkungannya sendiri. Setiap bulan warga perumahan membayar Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) kalau di SC yaitu Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan Lingkungan (BPPL). Pihaknya sudah cek BPPL, ternyata lebih murah daripada IPL mereka dan tidak ada masalah juga. Warganya juga tidak ribut, PT SC dan pengembang-pengembang lain yang mengembangkan township management tidak dapat disamakan dengan pengembang yang menyerahkan pengelolaan lingkungan kepada Ketua Rukun (RT) dan Rukun Warga (RW). 

"Tidak apple to apple menyamakan dengan kami misalnya dengan Perumnas. Karena kami punya pasar dengan segmentasi yang berbeda. Jadi dengan meneken PPBJ sesungguhnya konsumen sudah sadar mau tinggal di kawasan hunian yang kelasnya beda dengan segala hak dan kewajiban yang melekat beserta konsekwensinya. Mohon maaf kalau gak sanggup kan bisa memilih perumahan lain," jelasnya.

Sementara itu Jonni Kawaldi Hasibuan, Direktur Operasional PT Sukaputra Graha Cemerlang (SGC), anak perusahaan PT SC yang diberikan kepercayaan mengelola township management kawasan hunian SC menjelaskan, menjadi sebuah kebutuhan saat ini hadirnya hunian dan tempat usaha dengan infrastruktur dan fasilitas yang aman, nyaman, dan asri serta terawat dengan baik. Kondisi ini sungguh berbeda jika dibandingkan era 80-an di mana pengembang hanya membangun kawasan pemukiman skala kecil yang kemudian diserahkan ke pemerintah daerah. Akibatnya, prasarana umum pasca serah terima tidak terpelihara dengan baik. Selain itu, pemilik properti harus mengeluarkan dana untuk mendapatkan kondisi lingkungan aman, nyaman, dan asri.

"Yang terjadi kemudian munculnya inovasi dari developer yang mengembangkan kota mandiri dengan konsep township management menawarkan hunian yang aman, nyaman, dan asri kepada konsumen," jelasnya. 

Menurut Jonni, konsep ini mendapat respons positif dari pasar terbukti dengan hadirnya beberapa pengembang munculnya developer yang mengembangkan kota mandiri dgn konsep township management menawarkan hunian yang aman, nyaman, dan asri kepada konsumen. 

"Kota mandiri itu dibangun dengan tiga pilar utama infrastuktur, fasilitas dan township management. Untuk infrastuktur dan township management menjadi tanggungjawab developer, sedangkangkan fasilitas bisa dibangun oleh developer atau investor. Seperti di tempat kami di mana PT SGC yang  ditunjuk oleh PT SC  sebagai pengelola township management yang mengelola kawasan hunian Sentul City," paparnya.

Jonni menerangkan, township management mengelola tiga hal yakni pengelolaan lingkungan, pengelolaan air dan pengelolaan sampah di mana sasarannya adalah terciptanya kawasan hunian yang aman, nyaman dan asri. Untuk pengelolaan lingkungan, pelayanan yang diberika PT SGC antara lain customer service, keamanan, landscape, kebersihan, penerangan jalan umum, penegakan tata tertib, billing and collection, community development, logistic controller, government relation, city development dan corporate social responsibilty. 

“Terkait pengelolan air PT SGC membangun kerjama air curah dengan PDAM, produksi air bersih, distribusi, maintenance, quality control dan new source development. Sedangkan untuk pengelolan sampah, yang dilakukan PT SGC adalah sosialisasi dan edukasi, pengangkutan, pemilihan, pengolahan, bank sampah dan pemasaran produk olahan. Untuk kebersihan, kita sudah membangun TPS 3R yang diberi nama Sentul City Recycle Center (SCRC) yang minggu lalu ditinjau ibu Bupati Bogor dan Ibu Dirjen Pengolahan Sampah dan Limbah B3 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," pungkasnya.

Sementara itu sampai berita diturunkan, mediasi kedua belah pihak masih berlangsung di Izi Hotel Bogor.