Ini 7 Poin Tuntutan Warga Sentul City

Ini 7 Poin Tuntutan Warga Sentul City
Juru Bicara KWSC Deni Erliana. (Rizki Mauludi)

INILAH, Bogor- Komite Warga Sentul City (KWSC) mengambil sikap dengan mengeluarkan tujuh poin tuntutan. Apa saja?

Juru Bicara KWSC Deni Erliana mengatakan, pada 13 Juni 2019, Komite Warga Sentul City menerima surat undangan bertanggal 12 Juni 2019 dari Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Surat tersebut mengundang KWSC rapat di sebuah hotel di Kota Bogor, Jawa Barat, pada 17 Juni 2019. 

Surat tersebut merupakan pemberitahuan agenda 'Rapat Koordinasi Penyelesaian Permasalahan di Kawasan Permukiman Sentul City antara PT Sentul City dengan Komite Warga Sentul City yang melibatkan Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya'.

"Kami menghormati undangan tersebut. Namun saat rapat itu berlangsung, izinkan kami menyampaikan beberapa hal yang menjadi concern kami terkait agenda rapat kepada publik. Pertama, permasalahan di kawasan permukiman Sentul City, yakni privatisasi layanan air bersih dan pemeliharaan prasarana, sarana, dan utilitas, telah memasuki sistem peradilan yang telah menghasilkan dua putusan berkekuatan hukum tetap atau inkrah," ungkapnya.

Deni melanjutkan, putusan Mahkamah Agung Nomor 463 K/TUN/2018 pada intinya membatalkan Keputusan Bupati Bogor tentang Pemberian Izin Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum kepada PT Sentul City Tbk dan mewajibkan Bupati Bogor untuk mencabut keputusan itu. 

"Kemudian Putusan Mahkamah Agung Nomor 3415 K/Pdt/2018 yang pada intinya menghukum PT Sentul City untuk bertanggung jawab membiayai pemerliharaan prasarana, sarana, dan utilitas di kawasan Permukiman Sentul City sampai adanya penyerahan kepada Pemerintah Kabupaten Bogor dan menyatakan PT Sentul City Tbk dan anak perusahaannya tak berhak menarik biaya pemeliharaan dan perbaikan lingkungan dari warga di seluruh kawasan Sentul City," tambahnya.

Masih kata Deni, kedua, permasalahan di kawasan Sentul City juga telah memasuki sistem pengawasan pelayanan publik yang dilakukan Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya. Pada 27 November 2018, Ombudsman telah menyampaikan Laporan Hasil Akhir Pemeriksaan yang pada intinya menyimpulkan bahwa Bupati Bogor telah melakukan malaadministrasi berupa pengabaian kewajiban hukum dalam penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum di Sentul City dan dalam penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas di Sentul City. 

"Ombudsman mengajukan langkah korektif agar Bupati Bogor segera mengalikan penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum kepada PDAM Tirta Kahuripan dan melakukan penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas dari PT Sentul City, Tbk," tuturnya.

Ia menjelaskan, hal ketiga, dengan dua kondisi di atas, KWSC menilai adalah lebih tepat dan pas bagi Pemerintah pusat, dalam hal ini Kemenko Polhukam, untuk memastikan putusan Mahkamah Agung yang telah menjadi hukum tersebut ditegakkan di Sentul City. Ini karena hingga kini, baik Bupati Bogor maupun PT Sentul City masih enggan melaksanakan putusan secara sukarela. Keempat, penggunaan frasa 'koordinasi penyelesaian' dalam agenda rapat dapat berpotensi dinilai sebagai 'intervensi terhadap hukum', terlebih sudah ada dua putusan inkrah terkait permasalahan di Sentul City.

"Kelima, sebelum adanya dua putusan inkrah tersebut, kami telah berupaya memohon langkah proaktif Pemerintah pusat dalam penyelesaian permasalahan di Sentul City. Namun, upaya kami tak menghasilkan respons yang layak dan wajar dari Pemerintah pusat,"jelasnya.

Deni memaparkan, poin keenam yang diharapkan KWSC, merasa akan lebih tepat jika pertemuan terkait dengan urusan publik dilakukan di kantor-kantor pemerintahan ketimbang di sebuah hotel. Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pernah melakukan pertemuan terkait permasalahan di Sentul City di salah satu kantor milik Kementerian.

"Ketujuh kami meminta semua pihak, terutama Kemenko Polhukam, untuk menghormati proses peradilan dan wewenang lembaga negara independen seperti Ombudsman. Terlebih presiden Jokowi telah berkomitmen untuk tidak mengintervensi setiap proses hukum yang terjadi," pungkasnya. (Rizki Mauludi)