Syakir atau Syakur, Bukan Syakir atau Bukan Syakur

Syakir atau Syakur, Bukan Syakir atau Bukan Syakur

TAK ada satu pendapatpun yang menyanggah fakta bahwa salah satu kunci utama pembuka pintu bahagia adalah bersyukur. Tak ada satu orang pun yang tidak menyukai orang yang senang bersyukur karena wajahnya senantiasa menularkan aura senang bahagia. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk bersyukur?

Dalam al-Qur'an, orang yang bersyukur disebut dengan dua istilah dari akar kata yang sama, SYAKIR dan SYAKUR. Dua-duanya adalah dari kata SYAKARA. Apakah makna kedua kata itu sama? Ternyata ada sisi yang berbeda menurut para alim.

SYAKIRUN adalah orang yang mensyukuri apa yang ada. Mensyukuri keluarga, mensyukuri pekerjaan, mensyukuri penghasilan, mensyukuri semua yang dialami, termasuk mensyukuri kebisaan kita membaca tulisan ini. (Ehmm, maaf).

SYAKURUN adalah orang yang bisa dan terbiasa mensyukuri yang tidak atau belum ada. Mungkin ada yang bertanya, kok bisa? Jawabannya adalah karena dalam hatinya ada keyakinan bahwa sesuatu yang tidak didapatkannya adalah kenikmatan dan kebaikan dalam wajah yang lain yang Allah aturkan untuk dirinya.

Kebaikan Allah bukan hanya pada apa yang Allah berikan, melainkan juga pada apa yang Allah tidak atau belum berikan. Bagi SYAKURUN ini, tak ada kamus bersedih dan menyesal atas apa yang lepas, yang hilang atau bahkan yang belum tiba walau diharapkan dengan sangat.

Ternyata menjadi SYAKUR itu jauh lebih sulit dibandingkan menjafi SYAKIR. Jangan-jangan, di antara kita masih ada yang belum masuk kedua-duanya karena setiap hari menjual keluhan dan mengedarkan kisah kesedihan. Menjadi SYAKUR sungguh sangat sulit, karena itulah maka Allah berfirman dalam banyak ayatnya: "Sedikit sekali dari hambaKu yang masuk kelompok SYAKUR."

Marilah secara bertahap kita tinggalkan keluhan, tinggalkan protes, tinggalkan merasa sebagai orang paling menderita. Mulailah dengan membiasakan diri dengan selalu berucap "Alhamdulillaah." Salam, AIM. (KH Ahmad Imam Mawardi)