Sampah Pilpres Disulap Sholahudin Menjadi Miniatur Kolam Ikan

Sampah Pilpres Disulap Sholahudin Menjadi Miniatur Kolam Ikan
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Banyaknya sampah bambu pada masa kampanye pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) lalu dimanfaatkan Sholahudin (47) menjadi miniatur kolam ikan.

Bermodal kurang dari Rp100 ribu untuk membeli pompa air aquarium, bak plastik, dan lem Sholahudin warga Kampung Babakan RT 03 RW 01 Desa Cilember, Kabupaten Bogor dengan kreativitasnya berhasil menciptakan produk kerajinan. Dia pun menjualnya seharga Rp250-350 ribu per unit.

"Awalnya saya prihatin melihat banyaknya sampah bambu kampanye pilpres lalu. Saya coba untuk membuat air mancur bertemakan petani dan menguploadnya ke facebook, di sosial media tersebut. Ternyata ada teman yang minat dan membelinya. Karena tidak semua orang punya kolam ikan di rumahnya akhirnya saya berpikir membuat miniatur kolam ikan," ujar Sholah kepada wartawan, Senin (17/6/2019).

Ayah tiga orang anak ini menerangkan, untuk membuat miniatur kolam ikan hias dirinya menggunakan tiga jenis bambu yaitu bambu hitam, bambu tali dan bambu gombong.

"Bambu hitam dan gombong dipakai untuk membuat pancuran. Sementara, bagian detil saung, petani, dan kincir air itu menggunakan bambu  tali. Untuk ukuran miniatur kolam ikan 40x35 cm saya jual Rp 250 ribu. Sedangkan untuk ukuran 40x53 cm saya jual Rp350 ribu," terangnya.

Sholahudin mengaku, dengan keterbatasan tenaga kerja dan bahan baku bambu dirinya baru bisa memproduksi 10 unit miniatur kolam ikan per bulan. Ke depan, dia berharap bisa merekrut para pengangguran di kampungnya untuk menjadi perajin.

"Kendala perkembangan miniatur kolam ikan hias ini karena minimnya perajin. Padahal saya sudah ditawarkan pemilik Restoran Simpang Rawi di Puncak untuk buka stand pameran di sana. Semoga pemuda di kampung saya ada yang minat menjadi pengrajin karena pesanan banyak sementara saya hanya bekerja sendiri," tuturnya.

Selain membutuhkan keuletan dan ketekunan, proses pengerjaan produk kerajinan itu membutuhkan jiwa seni. Sebab, proses pembuatannya relatif gampang-gampang susah.

"Proses pembuatan miniatur kolan ikan ini cukup detil dan rumit. Hingga kalau ada  calon perajin yang mau belajar syaratnya cuma tiga yaitu ulet, tekun, dan memiliki jiwa seni," jelas pria yang juga kepala dusun itu.

Salah satu tokoh pemuda setempat Teja Purwadi mengaku bangga akan kreativitas Sholahudin. Dia pun mengajak para pemuda di Desa Cilember untuk membuat kelompok perajin miniatur kolam ikan.

"Saya sudah mulai mengajak pemuda Desa Cilember untuk menjadi perajin miniatur kolam ikan. Saya yakin produk ini bisa maju. Selain bisa membantu pemerintah daerah dalam mengurangi angka pengangguran, pekerjaan ini bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat," ujar Teja. (Reza Zurifwan)

Loading...