Itoc Tuding Benny Bachtiar Terlibat Dalam Korupsi Pasar Cibeureum

Itoc Tuding Benny Bachtiar Terlibat Dalam Korupsi Pasar Cibeureum

INILAH, Bandung - Mantan Wali Kota Cimahi Itoc Tochija menuding Benny Bachtiar terlibat dalam kasus korupsi pembangunan Pasar Cibeureum. Kasus tersbeut merugikan negara lebih dari Rp37 miliar. 

Hal itu terungkap dalam sidang kasus dugaan penyalahgunaan penyertaan modal pembangunan Pasar Cibeureum Kota Cimahi, di Pengadilan Tipikor PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (17/6/2019). 

Dalam sidang dengan agenda kesaksian, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Cimahi menghadirkan enam orang saksi. Di antaranya, Benny Bachtiar, ‎Untung Rudianto selaku Kabag hukum, M Yani selaku Kasubbag Perbendaharaan, Richard Nicholas selaku Kasubbag Anggaran, dan Amrullah selaku Kasubbag Bantuan Hukum.

Benny Bachtiar dihadirkan sebagai saksi saat dirinya masih menjabat sebagai Kasubbid Perencanaan Pendapatan dan Anggaran Belanja, Setda Pemkot Cimahi. Para saksi di persidangan mengaku  sama-sama mengaku diperintah Itoc sebagai wali kota untuk memasukan penyertaan modal di APBD 2006. Termasuk, penyertaan modal sebesar Rp27 miliar. 

Mendengar semua jawaban saksi yang menyudutkan dirinya, Itoc yang duduk di samping kuasa hukumnya dengan menggunakan kursi roda langsung naik pitam. Dia menanggap mereka berbohong dan bahkan ikut terlibat.

"Kalian semua terlibat dalam pembahasan rapat itu," ujar terpidana kasus suap pembangunan Pasar Atas tersebut. 

Dalam persidangan, Benny mengaku diminta Itoc sebagai staf untuk memasukan anggaran penyertaan modal di APBD 2006. Termasuk penyertaan modal Rp27 miliar.

"Malam sebelum sidang paripurna, saya diminta memfasilitasi dengan anggota DPRD Cimahi dan bertemu di kafe di Jalan Burangrang dihadiri kepala SKPD dan sejumlah anggota DPRD," kata Benny. ‎

Sementara, soal Perda penyertaan modal Benny mengaku saat itu belum dibuat. Perda baru keluar setelah anggaran penyertaan modal keluar dan disahkan DPRD Kota Cimahi.

Seperti diketahui, kasus itu bermula saat Pemkot Cimahi menyertakan modal Rp42 miliar ke PT Lingga Buana Wisesa melalui PD Jati Mandiri untuk membangun Pasar Cibeureum dan Sub Terminal Cimahi di atas lahan seluas 2,400 hektare.

Idris Ismail selaku direktur PT Lingga Buana Wisesa bersedia menyediakan lahan dan Pemkot Cimahi melalui BUMD PD Jati Mandiri menyediakan dana. Namun, ternyata lahan  masih dalam sengketa. ‎Hingga bertahun-tahun, pembangunan tak kunjung selesai dan kesepakatan antara Pemkot Cimahi dengan PT Lingga Buana Wisesa berakhir dengan sejumlah kesepakatan.

Salah satunya, pembagian uang dari penyertaan modal tersebut. Idris Ismail yang semula hanya menyediakan lahan namun ternyata lahan tersebut masih sengketa, tiba-tiba ketiban uang Rp37 miliar dari pembagian uang tersebut. Uang itu merupakan sisa dari penyertaan modal Rp42 miliar.

"Saat membahas anggaran penyertaan modal di DPRD Cimahi, Itoc tidak memasukkan penyertaan modal Rp31 miliar dalam nota keuangan. Kenyataanya, Itoc meminta Benny untuk memasukkan Rp27 M di pembahasan anggaran," ujar jaksa Aep Saepullah di persidangan. (Ahmad Sayuti)‎