Kadinkes Jabar Bantah Kegagalan Lelang Akibat Kekosongan Dirut Definitif

Kadinkes Jabar Bantah Kegagalan Lelang Akibat Kekosongan Dirut Definitif

INILAH, Bandung,- Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Berli Gelung Sakti mengklaim tidak ada korelasinya antara belum adanya Direktur Utama di rumah sakit milik pemerintah dengan kegagalan lelang. Hal ini sekaligus sebagai bantahan atas tuduhan DPRD Jabar terkait adanya kegagalan lelang. Seperti diberitakan sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jabar mendesak Pemerintah Provinsi Jabar untuk segera melantik Dirut di enam rumah sakit.

Adapun salah satu RS tersebut yakni, RSUD Pameungpeuk Kabupaten Garut mengalami kegagalan lelang dengan nilai sekitar Rp100 miliar pada tahun 2019 ini. Berli katakan, gagalnya lelang terjadi karena mepetnya waktu dan seluruh pihak yang mengikuti lelang tidak memenuhi kualifikasi.

"Sebenarnya kalau disangkutpautkan dengan dirut itu tidak ada sangkut pautnya, karena untuk lelang itu ada bironya sendiri Biro Pengadaan Barang dan Jasa," ujar Berli, Senin (17/6/2019)

Terkait kekosongan Dirut Definitif pada enam RS, Berli sampaikan ditargetkan dapat dilantik pada bulan Juni ini. Saat ini, lanjut dia, para kandidat telah mengikuti proses seleksi internal baik itu uji kompetensi maupun uji potensi. "Bahkan kita lakukan wawancara untuk melakukan psikometri dari masing masing calon," katanya.

Berli tegaskan, pihaknya tidak ingin dirut yang terpilih nanti memiliki kualifikasi yang asal-asalan. Namun harus memahami berbagai aspek dalam mengelola rumah sakit. Terlebih, menurut dia, RS milik Pemprov Jabar termasuk RS yang diandalkan. "Contoh kayak RSUD Pamengpeuk itu jauh dari mana mana. Yang jelas dia menjadi tumpuan harapan masyarkat sekitar situ. Begitu pula yang lain lain. Tentunya ini harus dikelola oleh manajer yang kompeten dan mampu membuat bussines plan," katanya.

Berli mengaku, pihaknya ingin mengupayakan pelantikan Dirut definitif segera digelar dengan memaksimalkan proses seleksi. Namun karena menyangkut pelayanan publik, dia tak ingin terburu-buru untuk menentukan sosok yang terbaik."Kita juga nggak mau asal asalan karena ini kan menyangkut pelayanan publik," ucapnya.

Hanya saja, Berli memastikan walaupun saat ini enam RS tersebut dipimpin seorang Plt namun pelayanan kepada masyarakat tetap harus berlangsung dengan maksimal. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Rumah Sakit.  

"Karena Plt sendiri sebagai pejabat lintas waktu atau sementara dia benar memiliki tanggung jawab dan kewenangan, hanya masalah keuangan saja yang harus memberitahukan atau memberikan persetujuan dengan kepala dinas," pungkasnya.

Sebelumnya Sekretaris Komisi V DPRD Jabar Abdul Hadi Wijaya menilai kosongnya kursi dirut definitif di enam RS tersebut berdampak pada kegagalan lelang dan tak maksimalnya penyerapan anggaran.  

Adapun enam RS itu, yakni RSUD Al Ihsan Baleendah Kabupaten Bandung, RS Jiwa Cisarua Kabupaten Bandung, RS Paru Sidareja Kabupaten Cirebon, RSUD Jampang Kulon Kabupaten Sukabumi, RSUD Pameungpeuk Kabupaten Garut dan RS Kesehatan Kerja Rancaekek Kabupaten Bandung.

Ketika tidak ada Dirut definitif maka Plt direktur utama secara psikologis tidak berani mengambil keputusan keputusan strategis. Termasuk ketika ada kegagalan lelang seperti yang terjadi di RSUD Pameungpeuk kabupaten Garut dengan nilai sekitar Rp100 miliar pada tahun 2019 ini.

"Plt tidak berani mengambil keputusan bahwa lelang yang gagal ini sebenarnya masih bisa dilakukan langkah-langkah komunikasi kepada mitra dinas yang lain dari PUPR dan sebagainya. Hanya saja karena statusnya Plt tidak dilakukan," ujar Abdul Hadi.

Dengan kegagalan lelang itu, lanjut dia, artinya anggaran sekitar Rp100 miliar tersebut tidak dapat terserap untuk perluasan satu segmen dari RS tersebut. Sehingga hak masyarakat terancam  tidak terlayani dengan baik. "Ini salah satu akibat tidak adanya direktur definitif dari RS umum daerah yang dikelola oleh Pemprov Jabar. Akhirnya serapan dinas secara total dengan rumah sakit tadi dalam satu pos yaitu hanya 75 persen.  Sangat rendah dibandingkan dinas dinas yang lain," paparnya. (rianto nurdiansyah)