Disbudpar Kab. Bogor Revitalisasi 7 Kesenian Nyaris Punah

Disbudpar Kab. Bogor Revitalisasi 7 Kesenian Nyaris Punah
Disbudpar Kabupaten Bogor akan merevitalisasi 7 kesenian yang nyaris punah. (Reza Zurifwan)

INILAH, Cibinong- Dinas Kebudayaan dan Parawisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor merevitalisasi 7 kesenian asli Bumi Tagar Beriman yang hampir punah.

Jenis kesenian yang akan direvitalisasi tersebut adalah angklung gubrak, ajeng, kecapi beton, biantek dan lainnya. Kesenian yang berusia ratusan tahun ini merupakan cikal bakal bermacam jenis angklung, degung, gamelan, gambang  kromong.

"Bogor ini dulu kan luas dan salah satu pusat kebudayaan hingga banyak jenis kesenian yang berusia ratusan tahun dan hampir punah. Kami akan merevitalisasi 7 keseniaj ini agar tidak punah," ujar Kepala Disbudpar Kabupaten Bogor Rahmad Sudjana kepada wartawan, Selasa (18/6).

Ia menerangkan kesenian asli Bogor yang hampir punah ini karena lemahnya regenerasi hingga seniman yang menjadi pelaku kesenian tersebut  usianya sudah lebih dari setengah abad.

 "Dalam merevitaliasi 7 kesenian ini kami menggali potensi lalu menularkan pengetahuan kesenian yang hampir punah tersebut kepada generasi muda, dalam giat revitalisasi ini kami melibatkan budayawan Bogor yang juga memang akademisi," terangnya.

Agar kesenian yang hampir punah tersebut bisa kembali eksis, Rahmad menuturkan setelah proses revitalisasi selesai akan memperkenalkan kesenian tersebut ke sekolah dan kampus.

"Setelah direvitalisasi, kesenian-kesenian tersebut akan kami tampilkan di sekolah dan kampus. Dengan modifikasi dan kolaborasi dengan seni modern, saya yakin para generasi muda akan ikut melestarikan kesenian asli Bogor," tutur Rahmad.

Ayah dari artis sinetron Nadia Vega ini menjelaskan untuk percontohan revitalisasi kesenian yang hampir punah, dalam waktu dekat jajarannya akan menampilkan kesenian biantek asal Desa Waru Kecamatan Parung dihadapan Bupati Bogor Ade Yasin.

"Bupati Bogor Ade Yasin sangat mendukung pelestarian kesenian dan kebudayaan Bogor, kesenian dan kebudayaan ini harus menjadi pendukung kemajuan dunia parawisata misalnya tampil di objek wisata, restoran dan hotel," jelasnya.

Terpisah, Abdullah Wong dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama
(Lesbumi PB NU) melanjutkan dalam merevitalisasi kesenian biantek dirinya tidak merusak pakem yang ada.

"Kami tidak merubah pakem tetapi hanya memasukkan unsur seni modern  dalam merevitalisasi atau memodifikasi kesenian biantek agar kesenian yang hampir punah ini digemari oleh generasi muda. Saya optimis masyarakat akan kembali menggemarinya karena kesenian yang lahir dari biantek seperti gambang kromong, topeng dan lenong betawi itu masih 'hidup' hingga saat ini," lanjut Wong. (Reza Zurifwan)

Loading...