Sikap Kami: Bobby Nasution

Sikap Kami: Bobby Nasution

BETAPAPUN PSSI itu organisasi tak berprestasi, dia tetap magnet. Maka, setiap hendak berkongres, selalu saja ada pihak-pihak yang memanfaatkannya. Untungnya, Bobby Nasution tak tergiur pihak-pihak semacam itu.

Entah dari mana dasarnya, tiba-tiba saja nama menantu Joko Widodo itu muncul dalam bursa pengurus. Disebut-sebutlah cocok mendampingi salah satu kandidat, Mohammad Iriawan alias Iwan Bule yang mantan Kapolda Jawa Barat itu.

Yang mengusulkan Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN). Entah organ apa pula ini dalam konteks sepak bola nasional. Disebutlah Bobby punya pengalaman, jadi manajer klub Medan Jaya, bekas klub Galatama dan Liga Indonesia yang kini namanya sudah tak ada.

Selalu setiap kongres, komite-komite semacam ini bermunculan. Entah apa maksudnya. Kadang-kadang cuma membuat hiruk pikuk, termasuk KPSN dengan usulan duet Iwan Bule-Bobby ini.

Jika KPSN membesar-besarkan Bobby, yang dibesar-besarkan justru merasa kecil. Dia bukan siapa-siapa di percaturan sepak bola nasional. “Sepatu bola saja saya tak punya,” katanya. Jelas, itu sindiran tajam untuk KPSN. Bagaimana mungkin anak muda dicalonkan jadi pengurus PSSI padahal bukan orang yang sungguh-sungguh terlibat dalam sepak bola.

Lalu, apa maksud komite tersebut menyorongkan nama Bobby? Tentu hanya mereka yang tahu. Masyarakat hanya bisa menebak-nebak.  Tapi, cara yang dilakukan komite itu jelas tidak elok.

Bobby itu jelas bukan siapa-siapa di sepak bola. Tak pernah terdengar namanya mengurus bola. Katakanlah pernah mengurus Medan Jaya. Lha mengurus klub saja gagal, bagaimana mengurus PSSI?

Kita paham, secara organisasi dan prestasi, PSSI itu gagal. Tapi, bukan berarti orang lain yang bisa menyelamatkan. Yang bisa, ya orang-orang bola juga. Hanya memang, pemilik suara di Kongres PSSI, harus jeli memilih orang tersebut.

Masifnya orang-orang nonbola masuk di PSSI sudah terbukti juga tak mampu menyelamatkan. Itu terjadi di era kepengurusan setelah Nurdin Halid. Johar Arifin betul orang bola, tapi banyak di sekelilingnya yang bukan. Dia bahkan disebut-sebut di bawah kendali orang lain.

Edy Rahmayadi juga tak bisa disebut orang bola yang klotokan. Juga gagal di PSSI. Akhirnya mundur.
 

Loading...