Hidup yang Resah dan Gelisah

Hidup yang Resah dan Gelisah
K.H Abdullah Gymnastiar. (Net)

Saudaraku, misalkan di depan kita ada makanan enak serta gratis, dan di situ juga ada ular yang bersembunyi. Lalu, informasi manakah yang terpenting, tentang ular dan keberadaannya, atau tentang kelezatan makanan gratis itu?

Kalau memikirkan nikmatnya makanan, kita bisa digigit ular dan makanannya tetap utuh. Tetapi ular yang harus dibereskan dulu, baru makanannya bisa kita nikmati.

Atau, misalkan saudara sedang menempuh perjalanan sendirian. Ketika merasakan haus, tampak dan terdengar gemerincing sebuah mata air yang bening dan gratis pula. Namun jalan menujunya ditanami banyak ranjau oleh orang jahat. Tentunya saudara tidak akan langsung berlari sumringah, tapi mencari tahu letak ranjau-ranjaunya terlebih dulu.

Jadi, informasi terpenting yang harus dicari terlebih dulu adalah yang berbahaya. Begitu pula ibaratnya dalam hidup kita. Bukan sesuatu yang menyenangkan, tetapi yang paling penting adalah apa yang membahayakan kita.

Lalu, apa atau siapakah yang paling membahayakan kita dalam hidup ini? Tidak sesuatu dan seorang pun yang paling berbahaya, kecuali diri kita sendiri. Hidup kita yang resah dan gelisah penyebabnya adalah diri sendiri.

Seperti antara dicopet dan mencopet. Kalau dicopet, kita shock ataupun sedih hanya sepanjang mengurus pembuatan ulang KTP dan kartu-kartu yang lain, serta menambah giat bekerja untuk mengumpulkan kembali uang yang diambil si copet.

Tidak selama kalau kita yang mencopet. Karena kalau kita mencopet, maka orangtua, saudara, istri, anak, teman-teman, tetangga dan semuanya kecewa, malu dan marah. Bahkan cap “copet” bisa terus terpajang walaupun kita sudah meninggal. Keluarga dan anak kita bisa dikucilkan, atau merasa rendah diri dalam pergaulannya.

Bahkan misalnya, kalau kita harus berangkat ke medan perang. Di sana yang membahayakan kita bukanlah musuh. Karena yang menghalangi kita menjadi syuhada adalah dosa kita sendiri. Contohnya, salah niat.

Berperang karena ingin dianggap hebat, pemberani, pahlawan, dan sebagainya. Kita tidak akan pernah terancam oleh siapapun, kecuali oleh diri kita sendiri.

Artinya, keresahan dan kegelisahan kita adalah buah dari perbuatan-perbuatan buruk kita sendiri. Buah dari dosa kita sendiri. Mustahil orang-orang yang korupsi milyaran itu bahagia. Sekalipun mereka merasa senang, karena belum dipenjara misalnya, maka kesenangannya itu semu. Tidak pernah ada kebahagiaan yang diperoleh dengan niat dan cara yang salah atau batil.

Dosa adalah petaka. Ibaratnya dari yang kecil jarum pentul, paku payung, tusuk sate, bambu runcing, dan seterusnya mengikuti besarnya dosa yang diperbuat. Dan jarum pentul maupun bambu runcing itu ditaruh sendiri di tempat yang persis bakal diinjak. Dosa yang dilakukan benar-benar diri sendiri yang akan memikul kepedihannya.

Nah, saudaraku, mari kita bersama-sama mencari tahu tentang informasi terpenting dan paling berbahaya dalam hidup ini. Kita bertanya pada diri sendiri tentang dosa-dosa apa saja yang sudah diperbuat, mulai yang terjauh di masa lalu untuk kita tobati.

Bila ada yang terlupakan, maka mohonkan kepada Allah SWT untuk diingatkan. Kita meminta kepada-Nya agar diberi kemampuan bertobat. Allah pasti tidak lupa. Dia selalu mencatat, dan sangat mudah bagi-Nya untuk membukakan catatan tersebut kepada kita.

Kita mohon ampunan Allah SWT supaya petaka-petaka tadi tak lagi mengikuti. Agar hilang semua keresahan dan kegelisahan hidup. Minum pil penenang atau narkoba satu kaleng sekali pun, sungguh takkan pernah bisa menjadi pelipur resah dan gelisah. Karena Pemilik, Pemberi, dan Sumber Ketenangan dan Kebahagiaan hanyalah Allah SWT. (KH Abdullah Gymnastiar)

Loading...