Terancam 10 Tahun Bui, URB: Saya Akan Kooperatif

Terancam 10 Tahun Bui, URB: Saya Akan Kooperatif
Ustaz Rahmat Baequni di Markas Besar Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat (21/6/2019). (Rianto Nurdiansyah)

INILAH, Bandung- Ustaz Rahmat Baequni (URB) memastikan akan bersifat koperatif terkait kasus hukum yang sedang dijalaninya. Termasuk dalam menjalani pemeriksaan kepolisian..

"Saya menyatakan bersifat kooperatif ikut menjalani pemeriksaan sebagai mana telah dijalaskan pertama tentang apa yang diberitakan, kalau saya menyebarkan berita bohong terkait dengan anggota KPPS yang meninggal dunia," ujarnya di Mapolda Jabar, Jumat (21/6/2019).

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut URB terancam hukuman penjara lebih dari 5 tahun atau kurang dari 10 tahun.

Polisi menjerat Rahmat dengan pasal berlapis yaitu Pasal 14 ayat 1 dan atau Pasal 15 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1946 dan atau Pasal 45 ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU nomor 19 tahun 2016, tentang perubahan terhadap UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 207 KUHPidana.

Selain soal KPPS, Rahmat Baequni pun disangka menyebar fitnah Densus 88 yang membuat kegiatan terorisme. 

"Tersangka secara tidak langsung menyebarkan fitnah dengan memberi statement kepada masyarakat bahwa kegiatan terorisme yaitu diciptakan oleh densus 88 dan juga produk intelejen," ujar Trunoyudo. 

Dia sampaikan, semula pihaknya mendapatkan informasi dari bareskrim unit Cyber Crime pada Jumat (14/6) lalu. Kasus ini akhirnya diserahkan ke Polda Jabar karena pertimbangan lokasinya.

Dari informasi itu, tim penyidik meningkatkan status dari  penyelidikan menjadi penyidikan setelah standar prosedur dijalankan. Akhirnya, pada Kamis (20/6) pukul 23.30 WIB Rahmat Baequni dijemput di kediamannya di Jalan Parakan Saat II Cisaranten, Kota Bandung untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"(Diamankan) sekira pukul 23.00 WIB. Materi pemeriksaannya berkaitan dengan ceramah dugaan informasi menurut tersangka yang menyebut 390 petugas KPPS maupun yang terlibat pemilu meninggal dunia karena diracun, diumumkan di tempat ibadah," terangnya

"Semua (tubuh petugas KPPS yang meninggal) mengandung racun dan diracun. Tujuannya tidak memberikan kesaksian di TPS. TKPnya di Baleendah Kota Bandung," lanjutnya.

Diketahui, salah satu informasi kasus ini bersal dari akun Twitter @CH_Chotimah terkait video ceramah Baequni yang berdurasi 2 menit 20 detik. Lalu, ada pula akun Twitter @narkosun yang melaporkan hal serupa. Selain itu, ada juga Laporan Polisi Nomor : LPA/591/VI/2019/Jabar tanggal 17 Juni 2019 atas nama Dio Ardi Kurnia. (Rianto Nurdiansyah) 
 

Loading...