Respons JK Dinilai Tutup Polemik Percepatan Munaslub Golkar

Respons JK Dinilai Tutup Polemik Percepatan Munaslub Golkar
Dedi Mulyadi

INILAH, Bandung - Isu  mempercepat Musyawarah Nasional (Munas) di tubuh Partai Golkar sempatkan mendapat respons dari Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK). Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut menilai tidak perlu ada percepatan. 

Ketua DPD Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku sepakat mengenai itu. Terlebih ada pandangan dari JK bahwa munas memerlukan ongkos yang besar dan akan percuma bila segera digelar mengingat masa jabatan hanya berlaku selama enam bulan, yakni hingga Desember 2019.

"Pernyataan Pak JK itu menutup polemik terkait munas bahwa munas tidak perlu dipercepat," ujar Dedi, via sambungan telepon Rabu (26/6/2019).

Menurut dia, Munas ibarat proses kelahiran. Bilamana  bayi dilahirkan secara caesar dan prematur tentu akan lebih mahal biayanya serta berisiko dibanding dengan persalinan normal.

"Begitu juga munas. Kalau dipercepat akan memakan biaya lebih besar serta hasilnya juga berisiko dan itu tidak baik bagi Golkar. Biarlah munas seusai dengan jadwal biar menghasilkan 'bayi' yang sehat," katanya.

Dedi yang merupakan Anggota DPR RI terpilih dari Golkar ini menilai, usulan segelintir elite agar munas dipercepat bukan untuk mendapatkan keputusan yang sifatnya urgent.  Namun ada indikasi untuk mengejar jabatan-jabatan tertentu. Misalnya, untuk menjadi menteri dan ketua MPR. 

"Desakan munas itu kan hanya untuk mereka yang mengejar jabatan menteri. Padahal agendanya tidak mendesak," katanya.

Adapun desakan munas, kata dia, hanya dilontarkan oleh orang-orang yang tak memiliki kapasitas sekalipun itu kader Golkar. Sebab, munas itu layaknya disuarakan oleh pengurus DPD I dan DPD II Golkar serta organisasi sayap.

"Yang capable desakan untuk munas Golkar DPD I dan DPD II serta organisasi sayap. Kenyataannya, mereka tidak mengusulkan munas dipercepat. Munas dipercepat hanya disebutkan oleh orang-orang yang tidak punya kapasitas untuk itu," pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)