350 Hektare Sawah di Purwakarta Terancam Kekeringan

350 Hektare Sawah di Purwakarta Terancam Kekeringan
Foto: Net

INILAH, Purwakarta – Di Kabupaten Purwakarta, musim kemarau tak hanya berdampak pada mengeringnya sumber-sumber air bersih warga. Melainkan juga mengancam areal pertanian yang ada di sejumlah kecamatan.

‎Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan)  Kabupaten Purwakarta melansir ada 350 hektare sawah yang diawasi. Lahan dengan usia tanamannya antara tiga pekan sampai 75 hari tersebut terancam kekeringan. 

"Jika tak segera diantisipasi, padi di ratusan hektare sawah ini bisa mengalami puso," ujar Kepala Dispangtan Purwakarta Agus Rahlan Suherlan kepada INILAH, Rabu (26/6/2019).

Agus menjelaskan, 350 hektare lahan sawah tersebut merupakan sawah tadah hujan. Saat musim kemarau seperti saat ini rawan kekeringan. Adapun sawah yang terancam kekeringan ini, tersebar di lima kecamatan, yaitu, Maniis, Campaka, Cibatu Plered, dan Tegalwaru.

"Kami sudah menyiapkan sejumlah solusi untuk menyelamatkan tanaman padi ini," jelas dia.

Salah satu solusinya dengan menyiapkan pompa air. Untuk pompa air, dinas sudah mendistribusikannya ke petani. Selain itu, petani sudah banyak yang memiliki pompa air sendiri. Solusi jangka pendek lainnya yaitu petani panen dini, seperti terjadi di Kecamatan Maniis. Pada pekan ini, sudah 60 hektare sawah di wilayah itu yang panen dini.

"Jadi, ada yang bisa diselamatkan. Di Desa Cirama Hilir, Kecamatan Maniis ada 15 hektare lagi, yang akan diselamatkan. Kemungkinan, panen dini juga," ujar Agus.

Agus mengatakan, para petani juga berinisiatif membuat sumur pantek, seperti yang terjadi di Desa Benteng, Kecamatan Campaka. Meskipun ada areal persawahan yang terancam kekeringan, sampai saat ini statusnya belum puso. Karena penanaman masih ada dan sebagian bisa diselamatkan dengan panen dini.

Kalau pun nanti terjadi puso, sambungnya, maka akan diupayakan untuk ada asuransi. Pasalnya, saat ini sudah ada 1.000 hektare lahan yang telah diasuransikan.

"Kita akan memersiapkan asuransi ataupun pengganti benih padinya, jika terjadi puso. Namun, sampai saat ini di Purwakarta belum ada yang puso," pungkasnya. (Asep Mulyana)