Banjir Baja China, Bea Masuk Harus Tinggi?

Banjir Baja China, Bea Masuk Harus Tinggi?

INILAH, Bandung-Belakangan ini Indonesia kebanjiran baja dan ban dari luar negeri terutama dari China yang telah membuat membuat perusahaan baja dalam negeri rugi. Hal ini tentu harus disikapi dengan baik oleh pemerintah.

Lalu apakah pemerintah harus membuat kebijakan kenaikakan bea masuk barang impor tersebut, Wakil Ketua Komite Eekonomi Industri Nasional (KEIN) RI, Arif Budimanta mengatakan, perjanjian jual beli itu harus dilihat lagi seperti apa.

"Ya kita harus melihat lagi konperehensip perjanjian perdagangan antara Indonesia china. Saya tidak tahu apakah itu menjadi perjanjian bagian dari perjanjian perdagangan antara indonesia dan China mengenai tarif," kata Arif dalam diskusi di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Dia hanya menekankan barang impor dari China harus sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). "Itu yang paling penting kalau menurut pandangan saya. Baja yang dipakai kepentingan konstruksi dalam negeri tentu baja yang berkualitas baik dan memberikan keselamatan jangka panjang," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Besi Baja Indonesia (IISIA) Yerry Indroes mengatakan, keberadaan baja impor yang membanjiri Indonesia telah menggerus pangsa pasar industri baja lokal.

Produsen baja lokal bahkan mengeluh tak dapat pesanan baja yang cukup. Akibatnya, mesin-mesin mereka terpaksa berproduksi pada kapasitas yang tidak optimal dan membuat perusahaan sulit melakukan efisiensi.

"Kita dari utilisasi pabrik saja hanya sampai 50% -60% utilisasinya pabrik. Biasnya kalau 70% saja itu belum untung. kalau 70% fasilitas pabrik terutilisasi. Ini kita di bawah itu," kata dia

Tingginya beban produksi tersebut, lanjut dia, memberikan efek berantai. Efek yang pertama, tentu harga baja produksi lokal akan jadi lebih mahal lantaran permasalahan kapasitas produksi lagi. Akibatnya, produk baja lokal jadi sulit bersaing secara harga dengan produk baja impor Cina yang harganya lebih murah.

"Jadi bahan yang diimpor pun di sini sudah bsia diproduksi. Cuma dia mengimpor dengan harga murah," ujar dia.

Data BPS memastikan terdapat peningkatan impor besi dan baja sebanyak 28,31 persen. Dari semula 7,985 miliar dolar AS di tahun 2017 menjadi 10, 245 miliar dolar AS pada 2018. (inilah.com)

Loading...