Masuk Musim Kemarau, Awas Harga Beras

Masuk Musim Kemarau, Awas Harga Beras
Foto: Net

INILAH, Jakarta - Ekonom Indef, Rusli Abdullah menyarankan pemerintah melakukan sejumlah terobosan guna mengantisipasi ketersediaan pangan, memasuki kemarau di sejumlah daerah Indonesia.

Musim kemarau, menurut Rusli, berdampak pada menurunnya produksi pangan di sejumlah daerah sehingga dikhawatirkan mengakibatkan harga pangan seperti beras melambung tinggi. "Antisipasi bulan Agustus beras akan naik karena dampak kekeringan terutama di Jawa bagian selatan," kata Rusli di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Berdasarkan data InaRisk dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), risiko kekeringan di Indonesia mencapai 11,77 juta hektar tiap tahun. Dan, berpotensi menimpa 28 provinsi.

Untuk itu, dia mengatakan bahwa pemerintah perlu memantau daerah mana saja yang terdampak kekeringan dan menjaga pasokan pangan di daerah tersebut dengan menggunakan stok beras dari Bulog. "Beras Bulog itu juga banyak melimpah dan bisa diupayakan dan disalurkan ke daerah yang terkena kekeringan," ujarnya.

Dia menegaskan, pemerintah daerah perlu rutin melakukan pengawasan termasuk dinas pertanian setempat. Guna mengantisipasi adanya pihak atau oknum yang melakukan penimbunan beras yang berakibat pada kenaikan harga.

Selain itu, Rusli menyebut bahan pangan alternatif seperti jagung dan singkong juga bisa dimanfaatkan sebagai pengganti beras bagi daerah yang terdampak kekeringan. (INILAHCOM)