Air Bersih Minim, Warga Purwakarta Manfaatkan Kubangan Eks Galian Tanah

Air Bersih Minim, Warga Purwakarta Manfaatkan Kubangan Eks Galian Tanah
Ilustrasi/Inilahkoran

INILAH, Purwakarta - Kekurangan air bersih, selama ini masih menjadi salah satu persoalan yang acapkali menghantui sebagian besar masyarakat di Kabupaten Purwakarta, kala musim kemarau tiba.

Tak jarang, dengan kondisi tersebut kerap membuat warga gelimpungan untuk mencari sumber-sumber air bersih yang tersisa untuk keperluan sehari-hari. Semisal untuk masak.

Kondisi tersebut, seperti yang telah dirasakan warga yang bermukim di tiga desa di Kecamatan Tegalwaru. Salah satunya, warga Desa Batu Tumpang. Menurut warga sekitar, kekurangan air bersih di wilayah ini telah berlangsung sejak dua bulan terakhir.

Lilis (45), ibu rumah tangga asal desa setempat menuturkan, masyarakat di kampungnya sudah beberapa pekan ini kesulitan air bersih. Dia dan warga lainnya pun kelimpungan mencari sumber air yang masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sudah hampir dua bulan ini, sumur di rumah kami mengering. Kami pun terpaksa mencari ke kampung tetangga yang masih terdapat sumber airnya,” ujar Lilis kepada wartawan, Kamis (4/7/2019).

Dia mengungkapkan masyarakat di wilayah itu harus rela berjalan kaki cukup jauh untuk bisa mendapatkan air bersih. Memang, kondisi seperti ini mungkin sudah tak aneh lagi bagi warga di kampungnya. 

Dengan kata lain, penderitaan sebagian warga di wilayah itu di setiap musim kemarau datang pasti kesulitan air bersih. Meski demikian, dirinya bersyukur karena masih ada sumber air yang bisa dimanfaatkan. Meskipun, lokasinya cukup jauh dari rumah mereka.

"Kampung kami, memang menjadi salah satu daerah langganan kekeringan setiap tahunnya," jelas dia.

Dia menjelaskan, sumber air yang tersisa biasanya berupa kubangan air eks galian tanah. Warga terpaksa memanfaatkan sumber air tersebut, kendati air yang terdapat di lokasi ini kotor dan keruh. Tapi, kata Lilis, mau bagaimana lagi, karena taka da pilihan lain.

“Air dari kubangan itu, hanya dipakai untuk keperluan mandi dan cuci pakaian saja,” jelas dia.

Sedangkan, sambung dia, untuk keperluan minum dan memasak, warga biasanya membeli air bersih dari pedagang air keliling. Dalam 500 liter air bersih, warga harus merogoh kocek hingga Rp 50 ribu. Air sebanyak itu, biasanya hanya terpakai beberapa hari saja untuk keperrluan masak.

“Sebenarnya sih mahal, tapi mau bagaimana lagi,” seloroh dia.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Dinas Pemadan Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Purwakarta, juga melansir jika di wilayah ini ada sedikitnya 70 desa di 10 kecamatan yang ada, merupakan daerah rawan krisis air bersih.

Adapun 10 dari 17 kecamatan yang rawan kekurangan air bersih ini, di antaranya Kecamatan Campaka, Cibatu, Bungursari, Tegalwaru, Maniis, Plered dan sebagian wilayah di Kecamatan Purwakarta kota.

Kepala DPKPB Kabupaten Purwakarta, Wahyu Wibisono menuturkan, pihaknya telah menyebar imbauan ke masing-masing kecamatan yang rawan krisis air bersih itu. Pihaknya berharap, masyarakat segera melaporkan jika mengalami kekurangan air bersih. Karena, pemerintah akan mengirim bantuan air bersih ke wilayah mereka.

“Jadi, warga tak perlu khawatir kekurangan air. Karena, kami siap mendistibusikan bantuan,” pungkasnya. (Asep Mulyana)