Kekeringan di Garut Bisa Seluas 3.525 Ha

Kekeringan di Garut Bisa Seluas 3.525 Ha
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Hingga akhir Juni, luas lahan pertanian sawah dilanda kekeringan pada musim kemarau 2019 ini di wilayah Kabupaten Garut mencapai sebanyak 1.226 hektare. Seluas 202 hektare di antaranya mengalami gagal panen alias puso.

Menurut Staf Koordinator Pengamat Organisme Pangganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Garut Ahmad Firdaus, jika hujan tak kunjung turun dan upaya penanggulangan tak berhasil maka luas lahan pertanian yang kering terancam semakin luas. 

"Dampaknya bisa mencapai sekitar 3.525 hektare sawah yang terdampak," kata Ahmad, Ahad (7/7/2019).

Dia menuturkan, penanganan terhadap kasus kekeringan dilakukan sejak Mei hingga akhir Agustus mendatang. Upaya yang dilakukan antara lain dengan pola gilir giring dan pompa air.

Ahmad menyebutkan, selain seluas 202 lahan pertanian puso, kekeringan di Garut hingga akhir Juni 2019 itu juga mengakibatkan seluas 712 hektare lainnya rusak ringan, 186 hektare rusak sedang, dan seluas 130 hektare rusak berat.

Berdasarkan periode laporan 16-30 Juni 2019, dia mengatakan kekeringan terparah terjadi mencapai seluas 310 hektare di wilayah Kecamatan Pameungpeuk. Itu meliputi 150 hektare puso, 28 hektare rusak ringan, 44 hektare rusak sedang, dan 88 hektare rusak berat.

Disusul kemudian seluas 141 hektare luas lahan pertanian di wilayah Kecamatan Cibatu mengalami kekekeringan. Itu meliputi 71 hektare di antaranya rusak ringan, 62 hektare rusak sedang, dan 8 hektare rusak berat. Lahan pusonya belum diketahui. 

“Kekeringan lahan seluas 1.226 hektare akibat kemarau dan perubahan iklim ini juga mengakibatkan sebanyak 6.130 KK (kepala keluarga) petani terdampak secara sosial ekonomi. Mereka selama ini menghidupi sebanyak 30.650 anggota keluarga,” jelasnya. (Zainulmukhtar)