Sikap Kami: Golkar (Lebih) Istimewa

Sikap Kami: Golkar (Lebih) Istimewa

GOLKAR itu hebat. Istimewa. Dia satu-satunya partai politik produk Orde Baru yang masih bersaing di papan atas.

Selain karena strukturnya, Golkar hebat karena pergolakan dan pergulatan politiknya. Rintangan apa yang dialami Golkar saat ini tak ada apa-apanya dibanding di era Akbar Tandjung. Tapi, mereka selamat.

Golkar hebat juga karena kaderisasinya yang kuat. Akarnya kuat, akar beringin. Dia tak goyah meskipun sejumlah pentolannya berbalik menjadi lawan. Wiranto bikin Partai Hanura, Prabowo Subianto mendirikan Gerindra, Surya Paloh membuat Partai Nasdem.

Apa yang dialami Golkar saat ini juga tak ada apa-apanya dibanding persaingan Surya Paloh dan Aburizal Bakrie di Munas Golkar beberapa tahun lalu. Saat itu persaingannya super tajam. Paloh yang kalah, kecewa dan mendirikan Nasdem.

Golkar selepas Orde Baru, patut berterima kasih kepada dua figur ini: Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Jika Akbar mempertahankan Golkar dari berbagai goyangan, Kalla menjadikan Golkar sebagai partai yang pernah jadi penguasa parlemen.

Golkar juga menjadi salah satu partai yang paling demokratis. Pergantian kepemimpinannya berjalan lancar meski diwarnai banyak dinamika. Dia tak seperti sejumlah partai lain yang pemimpinnya itu-itu saja.

Golkar pun tetap tegak meski sejumlah kadernya mencoreng muka. Kadernya, Idrus Marham jadi satu-satunya menteri era Joko Widodo yang terjerat kasus korupsi. Ketua Umumnya sekaligus Ketua DPR, Setya Novanto, kini mendekam di Sukamiskin. Kader lainnya, Bowo Sidik juga jadi tersangka menjelang Pemilu Legislatif karena dugaan korupsi untuk politik uang. Ada pula Rita Widyasari, yang terjerat kasus korupsi saat kursi Gubernur Kalimantan Timur hampir dalam genggaman.

Tapi, dari berbagai ujian itu, Golkar tetap selamat. Tapi, dia akan lebih istimewa, bila mampu menjadikan Munas yang akan digelar tahun ini, betul-betul berlangsung demokratis.

Ada dua kubu yang sedang bersaing: Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. Tentu, Golkar akan lebih istimewa jika kekhawatiran-kekhawatiran sang penantang, Bamsoet, bahwa pendukungnya “digergaji” tidak terbukti. Tugas Golkar untuk membuktikan dan meyakinkan publik, apakah misalnya pencopotan Ketua DPD Partai Golkar Kota Cirebon sama sekali tak ada kaitannya dengan dukung-mendukung calon ini. (*)