Menanti Keberhasilan Sistem Zonasi Jamaah Haji

Menanti Keberhasilan Sistem Zonasi Jamaah Haji

INILAH, Bandung-Pemondokan jamaah haji asal Jawa Barat pada 2019 ini bakal diberlakukan sistem zonasi. Diharapkan dengan zonasi satu embarkasi satu area ini, pelayanan haji akan lebih terorganisasi.

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI Kantor Provinsi Jawa Barat, Ajam Mustajam, mengatakan nantinya jamaah haji asal Jabar akan tinggal di Kota Mekkah, yakni area Misfalah.  Dengan jarak pemondokan antara 500 hingga 2.000 meter dari Masjidil Haram. 

Untuk memfasilitasinya, dia katakan, bus salawat disiagakan 24 jam sehari untuk membawa jamaah ke Masjidil Haram atau sebaliknya ke pemondokan.

"Sistem zonasi pemondokan di Mekkah ini baru diberlakukan tahun ini," ujar Ajam, Selasa (9/7).

Adapun pemberangkatan haji dari Jawa Barat, kata dia, masih masuk gelombang satu. Artinya pesawat yang membawa jamaah dari Bandara Soekarno Hatta masih mendarat di Bandara Madinah.  

Di Madinah, jamaah gelombang satu ini tinggal di area Markaziyah yang berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Nabawi. Hotel yang ditinggali jamaah Jawa Barat ini setara hotel bintang empat.

Kata Ajam, jamaah pemberangkatan gelombang satu mulai bergerak ke Mekkah mulai sembilan hari selanjutnya. Mereka akan tinggal dalam satu zona pemondokan, yakni di Misfalah.

"Di Madinah, Mekkah, maupun saat Armina (Arafah-Muzdalifah-Mina), jamaah akan mendapat makanan dua kali sehari yaitu pagi dan sore, kemudian mendapat buah dan snack sekali sehari," katanya.

Pihaknya akan melakukan evaluasi terkait kelebihan serta kekurangan sistem zonasi ini. Diketahui, pada tahun-tahun sebelumnya, pemondokan jamaah Jabar tersebar di kawasan lainnya dari mulai Bakhutmah, Syisah, sampai Mahbas Jin.

Adapun jumlah anggota jamaah haji Jawa Barat tahun ini terdiri atas 38.913 orang yang terbagi dalam 97 kelompok terbang atau kloter. Selain itu ada 285 Tim Pemandu Haji Daerah, dan 485 petugas kloter dari kesehatan. Dengan demikian, secara keseluruhan jamaah yang berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji sekitar 39.683 orang. 

Secara garis besar, katanya, pemberangkatan haji asal Jabar sejak 7 Juli 2019 masih berlangsung lancar. Hanya saja, ada tiga calon haji yang ditunda keberangkatannya dengan alasan kesehatan.

"Mereka dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Cirebon. Mereka dirawat dulu sampai diizinkan oleh petugas kesehatan untuk selanjutnya diterbangkan ke Tanah Suci," katanya.

Diketahui, Kloter pertama jamaah haji asal Jawa Barat diberangkatkan dari Bandara Soekarno-Hatta setelah melalui proses pemondokan di Asrama Embarkasi Haji Bekasi, Minggu (7/7). Berdasarkan data dari Kementerian Agama RI Kantor Wilayah Jawa Barat, Kloter 1 yang merupakan jamaah dari Kabupaten Bogor ini mulai masuk Asrama Haji Embarkasi Bekasi, Sabtu (6/7). Sementara pada 17 dan 18 Agustus nanti, kloter pertama ini bakal kembali ke tanah air. 

Sedangkan kloter terakhir, yakni Kloter 97 akan diberangkatkan pada Senin (5/8) dan baru kembali pada Minggu (15/9). Kloter terakhir ini adalah kloter campuran dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor, Depok, Bekasi, Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Bandung.


Masing-masing kloter terdiri atas 404 calon haji dan 6 petugas yang terdiri atas anggota Tim Pemantau Haji Indonesia, anggota Tim Pemantau Haji Daerah, perawat, dan dokter. Semua keberangkatan dan pemulangan jamaah asal Jabar menggunakan pesawat Saudi Arabian Airlines


Keberangkatan 97 kloter ini dibagi dalam dua gelombang. Kloter yang masuk Gelombang I diberangkatkan pada 7-19 Juli 2019, dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Madinah. Gelombang II diberangkatkan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Jeddah pada 20 Juli sampai 5 Agustus 2019.


Pada 9 Agustus 2019, jamaah haji dari dua gelombang ini sudah berkumpul di Mekah, memulai tarwiyah dan diikuti dengan wukuf di Arafah pada 10 Agustus 2019. Jamaah haji merayakan Iduladha di Tanah Suci pada keesokan harinya dan diikuti Tiga Hari Tasyrik. Kepulangan kloter pertama akan dimulai 17 Agustus 2019.(Rianto Nurdiansyah) 

Loading...