Golkar Terpuruk di Jabar, Dedi Mulyadi Sebaiknya Fokus Konsolidasi

Golkar Terpuruk di Jabar, Dedi Mulyadi Sebaiknya Fokus Konsolidasi
Foto: Net

INILAH, Bandung – Pengamat politik dari Universitas Padjajaran (Unpad) Firman Manan angkat bicara soal kasus pemecatan yang menimpa Ketua DPD Partai Golkar Kota Cirebon Toto Sunanto. Menurutnya kasus tersebut merupakan urusan internal partai, namun Ketua DPD Partai Golkar Jabar Dedi Mulyadi sebaiknya lebih banyak konsolidasi.

Firman merujuk pada hasil Pilpres 2019 lalu. Dedi Mulyadi sebagai Ketua TKD Jokowi-Ma'ruf Amin untuk Jawa Barat memiliki catatan negatif. Perolehan suara di Jabar stagnan dibandingkan Pilpres 2014 yang menunjukan pergerakan politik tim di Jabar kurang bagus.

“Orang akan melihat kontribusi Demul dalam pilres kemarin. Dengan perolehan suara stagnan, tak ada kenaikan berarti, seolah tidak ada ukuran kinerja. Kalau ada kenaikan sedikit sih bisa saja memperliharkan pergerakan politik. Secara formal, sebagai ketua TKD yang punya tanggung jawab, ini jadi catatan negatif,” ujarnya. 

Dedi pun tidak mampu mendongkrak perolehan suara Partai Golkar di Jabar. Partai Golkar hanya meraih 3.226.962 suara, kalah dari Partai Gerindra 4.320.050 (terbanyak pertama), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 3.510.525 (terbanyak kedua), dan PKS 3.286.606 (terbanyak ketiga).

“Ini perlu jadi bahan evaluasi dan introspeksi,” ujarnya.

Firman menyayangkan suara Partai Golkar di Jabar bisa melorot kalah dibandingkan Gerindra dan PKS. Padahal Partai Golkar memiliki basis massa kuat dan loyal.

“Golkar tidak bisa lepas dari tiga besar. Evaluasi ini harus menyeluruh. Lalu bisa jadi alasan untuk penggantian pengurus. Dinamika itu wajar ketika ada penggantian pengurus kalau suara melorot,” ucapnya.

Menurut Firman, problem pemecatan seperti ini terjadi di seluruh partai di Indonesia. Keputusan strategis daerah ditentukan oleh elit pusat. Sehingga dinamika penilaian elit daerah muncul dari penilaian elit pusat.

“Pemecatan bisa dicari 1.001 alasan. Mekanisme penegakan displin partai tidak by sistem, hanya personal pada elit, baik tingkat pusat maupun lokal. Cuma yang menarik sekarang di Partai Golkar Kota Cirebon karena isunya semacam loyalitas, menunjukan dukungan berbeda,” ungkapnya. (*)