Uji Coba Lalu Lintas, Kendaraan Masih Menumpuk

Uji Coba Lalu Lintas, Kendaraan Masih Menumpuk
Ilustrasi (Net)

INILAH, Bandung - Rekayasa lalu lintas kawasan yang mulai diberlakukan pada Kamis (11/7/2019) mendapat respons negatif oleh masyarakat. Mereka merasa kebingungan dan dirugikan dengan adanya rekayasa ini.

"Kita berahap dengan adanya rekayasa ini bisa menguraikan kemacetan lalu lintas pada kawasan Jalan Sukajadi dan sekitarnya. Hari ini pertama uji coba, terlihat masih padat, kemungkinan masyarakat masih kaget dengan adanya rekayasa ini," ujar Kepala Seksi Manajemen Kendaraan dan Transportasi Dishub Kota Bandung, Sultoni pada Kamis (11/7/2019).

Dia mengungkapkan sebanyak 128 personil Kepolisian dan 80 Dishub Kota Bandung siap diterjunkan rekayasa ini, semua personil disebar di persimpangan.

"Yang jelas, ini masih uji coba dan menggunakan rambu-rambu yang bisa kita angkat ke mana saja. Nah, nanti setelah ketemu polanya kita akan bikin rambu permanennya, tentunya setelah kita evaluasi apa beberapa jalan ini layak atau tidak," imbuh Sultoni.

Sebelum evaluasi lanjut dia, pihaknya akan melakukan evaluasi kondisi lalu lintas setiap harinya, karena Jalan Sukajadi selalu padat pada jam-jam tertentu.

Pihaknya akan menginventarisir setiap temuan dalam uji coba rekayasa lalu lintas kawasan Sukajadi-Cipaganti-Setiabudhi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk evaluasi untuk menemukan solusi kemacetan yang kerap terjadi di kawasan tersebut. 

"Tujuan hari ini dan beberapa hari ke depan kita akan evaluasi biar ketahuan, seperti di Sukajadi tundaannya ada di depan RSHS, masih ada tundaan tadi juga Cipaganti. Kita lihat apa penyebab tundaannya. Nah, itu yang kita evaluasi," kata Sultoni.

Dia mengatakan, terjadinya penumpukan kendaraan di beberapa ruas jalan merupakan hal yang wajar. Menurutnya banyak masyarakat yang belum mengetahui adanya rekayasa sehingga masih menggunakan rute perjalanan sebelumnya.

Salah satu pengemudi angkutan online, Oky, juga mengeluhkan dengan adanya rekayasa lalu lintas ini. Menurutnya dirinya mendapat kritik dari pemesan karena terlambat dalam pejemputan penumpang.

"Penumpang penginnya cepet-cepet, sedangkan kita harus muter-muter cari jalan. Pemerintah efektifkan atuh harusnya, jalannya," katanya.

Oky juga meminta agar perubahan jalur tidak dilakukan karena dirasa tidak memberikan dampak signifikan dalam mengurai kemacetan. Menurutnya, selain tidak berdampak, rekayasa ini juga membuat biaya perjalanan semakin meningkat.

"Mending dua jalur daripada satu jalur. Masih tetap macet nggak ada efektifnya. Ongkos tetep lagi, coba kalau ongkos dinaikin," tandasnya. (Okky Adiana)