Kasus Vincent, Debat Hak untuk Mati di Prancis

Kasus Vincent, Debat Hak untuk Mati di Prancis
Vincent Lambert. (Net)

INILAH, Paris- Seorang pria lumpuh menjadi simbol bagi perdebatan hak untuk mati di Prancis. Ia akhirnya meninggal dunia Kamis 11 Juli kemarin sesudah dokter mencabut pipa makanan, yang mempertahankannya hidup.

Vincent Lambert, 42 tahun, berada dalam keadaan vegetatif--hidup tapi lumpuh total--sejak mengalami kecelakaan sepeda motor 11 tahun lalu.

Dokter mulai memutus pipa makanan minggu lalu sesudah ada keputusan akhir dari pengadilan kasasi di Prancis.

Eutanasia--mengakhiri dengan sengaja hidup seseorang yang sakit berat secara tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan--merupakan tindakan ilegal di Prancis. Tetapi dokter diperbolehkan melakukan bius mendalam bagi pasien yang sakit sangat parah.

Kasus Vincent Lambert ini menyebabkan kontroversi tajam, baik di keluarganya maupun di Prancis, hingga memicu demonstrasi di jalan-jalan di Paris.

Keponakannya menyatakan Vincent meninggal pukul 08.24 waktu setempat, sembilan hari sesudah pipa makannya dicabut.

Pada tanggal 2 Juli, Pengadilan Kasasi di Prancis memutuskan untuk memperbolehkan dokter mencabut pipa makan untuk Vincent Lambert, yang merupakan mantan perawat psikiater.

Tim medis di Rumah Sakit Sbastopol di kota Reims kemudian mulai mencabut pipa makannya sambil memastikan "pembiusan mendalam dan berkesinambungan".

Orang tua Vincent Lambert terus berupaya mempertahankan agar anak mereka tetap hidup. Namun mereka diberitahu bahwa sudah tak ada upaya hukum yang bisa dilakukan lagi.

Ayahnya, Pierre Lambert, 90, meggambarkan keputusan pengadilan kasasi itu sebagai "pembunuhan tersembunyi" dan "eutanasia".

Namun istri Vincent Lambert dan banyak orang lain berpendapat bahwa membiarkan Vincent meninggal dunia merupakan jalan kemanusiaan.