Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Bogor Makin Meningkat 

Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Bogor Makin Meningkat 
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Cibinong - Selama semester I 2019, jumlah korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Bogor cenderung meningkat. Jika tahun lalu jumlah korban mencapai 25 orang, saat ini di enam bulan pertama angkanya mencapai 15 orang.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor Rustandi mengatakan, dengan jumlah dan wilayah penyebaran kasus kekerasan atau pelecehan seksual tersebut, Kabupaten Bogor bisa dibilang zona merah atau rawan kejahatan luar biasa.

"Dengan jumlah korban kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 15 orang di semester pertama ini cenderung meningkat karena di tahun sebelumnya di semester pertama jumlahnya tidak sebanyak itu," ujar Rustandi kepada wartawan, Senin (15/7/2019).

Menurutnya, korban kekerasan terhadap perempuan dan anak ini didominasi anak perempuan dengan kasus pelecehan seksual.

"Korban paling banyak itu anak perempuan dengan kasus pelecehan seksualnya, lalu kasus lainnya itu anak atau remaja laki-laki yang terlibat tawuran hingga menjadi pasien kami untuk direhab psikologisnya," terangnya.

Kabid Pemulihan Sosial Dian Muldiansyah menututurkan, jajarannya sudah melakukan pemetaan kecamatan rawan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pemetaan itu dilakukan di Cibungbulang, Leuwiliang, Leuwisadeng, Cigudeg, Pamijahan, Cibinong, Sukajaya, Jasinga, Rumpin, Megamendung, Ciawi, Cileungsi, Jonggol dan Gunung Putri.

"Dengan tersebarnya daerah rawan kekerasan terhadap perempuan dan anak ini kami pun membentuk satgas sosial di setiap kecamatan untuk memberikan penyuluhan dan demi pencegahan agar kekerasan itu tidak lagi menimpa perempuan dan anak," tutur Dian.

Dia menambahkan, khusus anak laki-laki yang menjadi korban kekerasan sosial sesama jenis jajarannya melibatkan psikolog dan keluarga. Hal itu dilakukan agar anak lelaki tersebut tidak menjadi pelaku kekerasan seksual di kemudian hari.

"Di Rumpin itu pelaku kekerasan seksual terhadap sesama jenis itu masih anak-anak dan dia sebelumnya menjadi korban kekerasan seksual sejenis, lalu kemarin dia beralih menjadi pelaku kejahatan tersebut dengan korbannya anak laki-laki yang usianya lebih muda dari dirinya," tambahnya.

Dia melanjutkan beberapa orang anak atau remaja perempuan juga menjadi korban trafficking atau perdagangan manusia hingga remaja perempuan tersebut menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK).

"Masih adanya kasus trafficking ini membuat kita miris karena korbannya sendiri menyadari bahwa dia 'dijual' untuk selanjutnya dijadikan PSK. Kasus yang melibatkan remaja asal Cigombong ini bukti bahwa nilai agamis maupun moral semakin terkikis bukan karena kemiskinan tetapi karena korbannya berkeinginan memiliki gaya hidup yang mewah," lanjut Dian. (Reza Zurifwan)