Berusia 500 Tahun, Imah Gede Jagaeta Jonggol Kudu Dijaga

Berusia 500 Tahun, Imah Gede Jagaeta Jonggol Kudu Dijaga
Imah Gede Jagaeta yang berusia 500 tahun lebih di Kampung Jagaita. (Reza Zurifwan)

INILAH, Jonggol- Imah Gede Jagaeta yang berusia 500 tahun lebih di Kampung Jagaita RT 02 RW 06 Desa dan Kecamatan Jonggol kudu (harus) dijaga masyarakat maupun pemerintah daerah.

Imah Gede Jagaeta berikut Sumur Sri Tambakan Cempaka Tunggal, Leuit Salawe Jajar dan makam uyut Raden Suryapati dan Raden Ayu Sarianingrat, bernilai sejarah tinggi. Desa ini menjadi sentra padi namun kini hampir menjadi kenangan seiring kemajuan zaman dan berdatangannya kaum pendatang.

Judin Lebor (42 tahun) Ketua RT 02 mengatakan bahwa Kampung Jagaita nama sebenarnya adalah Jagaeta (Jaga Itu) karena kampung ini adalah salah satu lumbung padinya Kecamatan Jonggol.

"Dari namanya Jagaita itu bermakna bahwa leluhur kami memerintahkan untuk menjaga kampung ini sebagai daerah penghasil atau lumbung padi, sekarang luas sawah di kampung ini terus berkurang seiring kemajuan zaman dan pertumbuhan penduduk," kata Judin kepada Inilah, Senin (15/7).

Ayah satu orang anak  ini menerangkan dengan adanya Imah Gede Jagaeta, Sumur Sri Tambakan Cempaka Tunggal dan Leuit Salawe Jajar membuktikan kejayaan kampung ini dimasa lalu sebagai daerah lumbung padi.

"Dulu jumlah leuit ada 25 buah dan berbaris namun kini jumlahnya tinggal 5 buah karena jumlah sawahnya juga terus berkurang, sementara Sumur Sri Tambakan Cempaka Tunggal itu berfungsi sebagai tenpat ritual budaya ngabungbang yang dilaksanakan setiap tanggal 14 Bulan Maulud," terangnya.

Lebor menjelaskan Imah Gede Jagaeta yang berada di sisi Jembatan Cipamingkis sudah ratusan tahun  tidak didiami dan hanya menjadi imah karuhun dan menjadi pusat kebudayaan masyarakat setempat.

"Imah Gede Jagaeta sekarang hanya menjadi pusat kebudayaan atau kearifan lokal seperti muharroman, rebo wekasan, sedekah bumi, ngabungbang dan setiap ada  yang mau hajat itu mengadakan pengajian atau syukuran di rumah ini. Sampai sekarang budaya diatas secara konsisten dilaksanakan karena itu sudah menjadi amanat leluhur kami," jelas Lebor.

Ia melanjutkan bahwa Kampung Jagaita belum pernah mendapatkan perhatian dari para petinggi Kabupaten Bogor dan kedepan masyarakat kampung ini berharap kedepan ada perhatian dari pemerintah daerah untuk ikut melestarikan Imah Gede Jagaeta atau Kampung Jagaita.

"Dari dulu belum ada perhatian ataupun bantuan dari pemerintah daerah, masyarakat pun patungan atau gotong royong dalam merevitalisasi Imah Gede Jagaeta, semoga budaya di Kampung Jagaita ini mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan tetap ada hingga ratusan tahun mendatang," lanjutnya.

Ketua Pamong Budaya Bogor Bambang Sumantri (42 tahun) mengusulkan agar Kampung Jagaita menjadi Kampung Budaya seperti Kampung Urug Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

"Selain budaya yang selama ini berlangsung turun temurun keunikan dari Imah Gede dan rumah adat lainnya di kampung ini tidak menggunakan paku tetapi menggunakan paseuk (kayu yang ditajamkan layaknya paku). Saya usul agar Pemkab Bogor menetapkan bahwa ini menjadi Kampung Budaya Jagaeta karena ini juga bisa menjadi objek wisata sejarah," tukas Sumantri. (Reza Zurifwan)