Secara Global, Kasus DBD Meningkat

Secara Global, Kasus DBD Meningkat
Ilustrasi (Net)

INILAH, Jakarta - Tahun ini, jumlah infeksi DBD mencapai titik tertinggi di seluruh wilayah Asia setelah melihat adanya penurunan kasus di 2017-2018.

Thailand sedang mengalami epidemi DBD terbesar selama lebih dari dua dekade; Singapura dan Malaysia mengalami dua sampai tiga kali lipat kasus DBD dibandingkan dengan musim yang sama tahun lalu; Indonesia sudah siaga sejak Jakarta mengalami lonjakan kasus DBD dengan lebih dari 100 korban meninggal dunia pada Januari tahun ini.

Secara global, DBD telah tumbuh secara eksponensial dalam beberapa dekade terakhir. Endemik DBD nyata di 128 negara di mana sekitar 4 miliar orang bertempat tinggal dengan lebih dari 55 persen populasi dunia berisiko terinfeksi.

Selama lebih dari lima dekade terakhir, insiden DBD meningkat 30 kali lipat secara global, menjadikan DBD sebagai penyakit paling mematikan yang ditularkan oleh nyamuk.

Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap munculnya wabah DBD ini, tetapi urbanisasi, globalisasi dan kurangnya pengendalian nyamuk yang efektif telah menjadi pendorong utama.

“Virus DBD telah sepenuhnya beradaptasi dengan siklus transmisi manusia-Aedes aegypti-manusia, dimana populasi manusia yang padat hidup dalam hubungan erat dengan populasi nyamuk yang sama besarnya, sehingga sulit untuk memerangi DBD," kata Prof Duane Gubler, Profesor Emiritus, Duke-NUS Medical School, Singapura, dan Ketua Global Dengue and Aedes Transmitted Disease Consortium (GDAC), Jakarta, Senin (15/7/2019).

Faktor-faktor eksternal seperti kemampuan virus untuk menyebar dengan meningkatnya jumlah manusia yang berkeliling lintas dunia menyebabkan migrasi DBD, sehingga membuat perjuangan melawan DBD semakin sulit.

Demam berdarah, penyakit kompleks dengan empat jenis virus dan vektor yang sangat fleksibel dan efisien, memerlukan pendekatan yang inklusif. Metode pencegahan dan manajemen yang efektif akan membutuhkan langkah-langkah pengendalian nyamuk yang terintegrasi, implementasi vaksin, dan kolaborasi regional antarnegara.

Koalisi ADVA akan memanfaatkan pengetahuan dan keahliannya dalam mendukung pemerintah di Asia guna mengurangi beban DBD.

“Untuk mengatasi pandemi secara efektif, kita membutuhkan pendekatan yang holistik serta upaya-upaya yang terintegrasi dan terpadu untuk memastikan pengendalian dan manajemen DBD yang lebih baik secara regional maupun global," ujar Dr Zulkifli Ismail, Wakil Ketua ADVA dan Sekretaris Jenderal Asia Pacific Pediatric Assocation.

"Ketahanan masyarakat yang berkelanjutan, edukasi, advokasi dan mobilisasi tetap penting. Sangat penting bagi kita untuk terus meningkatkan langkah-langkah pengendalian yang ada, mengembangkan kapasitas dan mengenalkan vaksinasi. Semuanya memainkan peran penting dalam pendekatan terintegrasi melawan DBD, sebuah penyakit yang tidak mengenal batas apapun," tambah Dr Zulkifli.  (inilah.com)

Loading...