Inilah Sentra Perajin Peci Legendaris Kampung Langonsari

Inilah Sentra Perajin Peci Legendaris Kampung Langonsari
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Peci hitam atau songkok menjadi penutup kepala ciri khas masyarakat Indonesia. Bahkan, tak hanya di Indonesia peci hitam juga banyak dipakai masyarat di beberapa negara seperti Malaysia, Brunei Darusalam hingga Nigeria di benua Afrika. 

Dari penelusuran, ternyata di Kampung/Desa Langonsari, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung terdapat sentra pembuatan peci hitam yang turut mewarnai sejarah peci dari masa ke masa.

Sejak lama, Kampung Langonsari dikenal sebagai sentra perajin peci hitam. Di kampung ini terdapat puluhan orang pekerja penjahit peci yang bekerja di lima orang perajin atau pemilik usaha pembuatan peci. Kelima perajin tesebut yakni HM Toha Manis, Harmonis, Melati, Tiga Negeri, dan Mutiara. 
Produksi peci dari kelima produsen itu bisa mecapai 60 ribuan potong peci yang dijual ke semua pulau di Indonesia. Bahkan, pemasarannya menembus ekspor ke luar negeri.

Gamal Azhar (47), perajin dan penerus usaha peci HM Toha Manis mengatakan perintis usaha pembuatan peci di kampung tersebut diakuinya almarhum ayahnya, HM Toha Manis. 

"Dulu sekitar tahun 1945an, awalnya cuma memperbaiki dan coba coba bikin peci dari bahan seadanya saja. Nah di tahun 1960 an, ayah mulai serius menggeluti usaha ini dengan membuat dan menjual langsung. Awalnya sih cuma beberapa potong saja dibawa ke Jakarta. Lambat laun toko grosir di Jakarta ordernya terus meningkat. Nah dari toko di Jakarta inilah peci hitam HM Toha buataan ayah saya ini tersebar ke seluruh Indonesia dan juga ke Malaysia, Brunei Darusalam, dan Nigeria," kata Gamal saat ditemui di kediamannya di Kampung Langonsari, Selasa (16/7/2019).

Menurutnya, saat itu ayahnya memperkerjakan sekitar 60 orang pekeja yang berasal dari warga sekitar dan sebagian dari Tasikmalaya. Dari sanalah asal mulai kampung Langonsari dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan peci hitam di Indonesia. Para perajin di tempat ini membuat peci hitam dengan jenis hitam polos dan juga motif gliter salur. 

"Para pekerja ini ada yang kemudian buka usaha sendiri. Begitu juga setelah ayah saya meninggal kami juga anak anaknya melanjutkan usaha ini. Saya sendiri meneruskan usaha ini sejak 1992 lalu, nah dari almarhum ayah saya lah mulai berkembangnya usaha pembuatan peci di kampung ini sampai sekarang," ujar Gamal.

Dikatakan Gamal, peci hitam hasil produksi warga di Kampung Langonsari ini terbilang merajai pasar peci dalam negeri kecuali di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Harga jual yang kompetitif dengan kualitas yang bagus, membuat peci hitam buatan warga Kampung Langonsari ini mendapatkan tempat dihati para penggemarnya. Maka tak heran para perajin di kampung ini, menurut Gamal tak pernah kesulitan untuk memasarkan peci hitam buatannya. Bahkan, seringkali ia kewalahan dan tak bisa memenuhi pesanan yang membludak seperti setiap bulan puasa hingga lebaran. 

"Alhamdulilah pesanan enggak pernah sepi, bahkan saya sering enggak bisa memenuhi semua pesanan yang datang. Saya rasa perajin lainnya juga disini sama. Nah selain kami sudah punya pasar dan pelanggan masing masing, kalau salah satu dari kami dapat pesanan dalam jumlah besar itu dikerjakan oleh semua perajin disini tapi dengan merek dagang dari yang punya orderan," katanya.

Gamal melanjutkan, sejauh ini para perajin peci di kampungnya itu tak mengalami kendala dalam hal produksi. Karena bahan baku berupa kain beludru dan bahan kain lainya banyak di pasaran. Hambatan yang lambat laun dirasakan para perajin yaitu kesulitan mencari tenaga kerja. Sebab, saat ini generasi muda di kampungnya lebih tertarik bekerja di sejumlah pabrik yang banyak tersebar di Kabupaten Bandung.

"Regenerasi pekerja yang mulai sulit, anak muda lebih tertarik bekerja di pabrik. Selain itu, yang kami perlukan adalah bantuan di bidang pemasaran produk. Ya, itu saja kesulitan kami. Kalau soal bahan baku cukup banyak baik impor maupun lokal," katanya.

Selain membuat peci hitam, lanjut Gamal, para perajin di kampung ini juga sebenarnya memproduksi bendo atau topi khas Sunda berbahan kain batik dan iket kepala khas Sunda. Pembuatan bendo itu diakuinya sudah lama juga digeluti. Sedangkan, pembuatan iket itu tergolong baru. Pembuatannya dilakukan sejak pemakaian iket kepala diwajibkan pemakainnya di instansi pemerintahan dan sekolah. (Dani R Nugraha)

Loading...