CoMDITE Menjawab Tantangan Bisnis Industri 4.0

CoMDITE Menjawab Tantangan Bisnis Industri 4.0
Conference on Managing Digital Industry, Technology, and Entrepreneurship 2019. (Okky Adiana)

INILAH, Bandung - Program studi Magister Manajemen Telkom University (MM Tel-U) menggelar konferensi internasional, Conference on Managing Digital Industry, Technology, and Entrepreneurship 2019 (CoMDITE 2019). 

CoMDITE 2019 merupakan konferensi tahunan yang dilaksanakan oleh Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University (MM Tel-U) Indonesia bersama Fakultas Manajemen Multimedia University Malaysia. 

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, Dodie Tricahyono mengungkapkan, konferensi ini akan dilaksanakan setiap tahun secara bergantian sebagai bentuk kolaborasi internasional dalam rangka mencapai target World Class University.

Kaprodi MM Tel-U Siska Noviaristanti mengatakan, konferensi dibagi menjadi dua sesi utama yaitu sesi seminar diskusi panel dan sesi presentasi paralel. 

Untuk kali ini peserta sebagian besar berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Selain itu, juga melibatkan pembicara dari tiga negara tersebut.

Konferensi ini merupakan wujud nyata kerja sama dalam rangka memberikan kontribusi nyata dari akademisi terhadap industri dan sebaliknya dengan mengetengahkan tema yang diusung adalah Understanding Real Time Economy and Design for Business Sustainability. 

"Paper yang disampaikan dan dipublikasikan di CoMDITE 2019 ini diharapkan mampu memberikan solusi keberlangsungan bisnis melalui pemahaman ekonomi riil dan desain," imbuhnya.

Pembicara dari MM Tel-U Indrawati memaparkan, dari sudut pandang akademisi ada tiga poin utama yang dapat disampaikan. Pertama, bagaimana menjawab tantangan Marketing 4.0? 

Perlu mengaplikasikan bauran pemasaran digital

Sebelumnya, bauran pemasaran terdiri dari 4P yaitu Producer, Price, Pomotion, dan Place, untuk bauran pemasaran digital bergeser menjadi Co-Creation, Currency, Conversation, dan Communality (4C).

Bagi perusahaan start-up, penting untuk menggunakan teknologi 4.0 untuk mendukung bisnis dan tentu saja perlu ditopang implementasi 4C sebagai bauran pemasaran digitalnya.

Multimedia University Prof Saravanan menyoroti peran institusi pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang familiar dengan soft skill digital dalam bidang keuangan dan akuntansi seperti blockchain, e-audit, big data, cryptocurrencies, audit di komputasi awan, konseling softbot, robotic dalam proses otomatisasi, transaksi peer-to-peer, dan aplikasi AI dalam perpajakan. 

"Kemunculan Financial Technology merupakan bentuk disrupsi bagi tenaga kerja akuntansi dalam industri. Oleh karena itu, perlu ada 10 skill utama yang diperlukan bagi lulusan dan dimasukkan dalam kurikulum sehingga siap menghadapi era Financial Technology," paparnya.

Akademisi dalam bidang desain, Dr Vichaya Mukdamanee, Silparkorn University, mengemukakan perubahan teknologi juga berdampak dalam bidang desain. Saat ini, teknologi berfungsi dalam proses pengumpulan, transfer, dan analisis data digital. 

Software komputer dan mesin menjadi lebih terkini dan terjangkau menyebabkan seniman saat ini dapat menciptakan objek artifisial dengan detail kompleks yang hanya bisa dibayangkan pada masa lalu. Saat ini tidak ada perbedaan pekerjaan seni yang dilakukan oleh tangan dan mesin. 

"Kita dapat membuat objek artifisial seperti asli dengan teknologi yang terinsipirasi dari alam dan komunitas lokal. Seni dan teknologi merupakan salah satu cara untuk membangun masyarakat yang lebih baik," ungkapnya.

Dari sudut pandang industri ada dua hal yang menarik dalam paparan diskusi panel yaitu memaparkan adaptasi Telkom Group dan Amoeba Telkom dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis sehingga bisa bertahan dalam industri. 

Panitia Tel-U Dr Rina D Pasaribu memaparkan, bagaimana membawa Telkom menjadi pemain digital secara global. Telkom Corporate University menjawab tantangan ini dengan mengembangkan SDM digital yang unggul atau Great Digital People yang terdiri dari kompetensi teknikal atau fungsional, profesional, dan kepemimpinan digital. 

"Sehingga diluncurkan program pengembangan kapabilitas SDM ini baik dilakukan di domestik maupun dalam skala global seperti Hack Ide dan program Digital Amoeba. Selain itu diperlukan juga program memperkuat budaya organisasi melalui implementasi praktek digital dengan aplikasi mobile seperti Diarium dan Cognitium," paparnya.

Di samping itu, Fauzan Feisal, MIB sebagai CEO Amoeba Telkom Group mengemukakan dalam menghadapi ancaman perubahan teknologi saat ini, korporasi memerlukan inovasi dalam bentuk demokratisasi pengambilan keputusan. 

Perubahan teknologi akan memberikan dampak terhadap perubahan perilaku masyarakat untuk kemudian berdampak terhadap perubahan ekonomi.

Oleh karena itu, yang perlu dikelola adalah perubahan pengelolaan SDM perusahaan terkait bagaimana karyawan bereaksi terhadap teknologi, konsumen, produk dan jasa, aliran uang, bagaimana pasar tenaga kerja bereaksi terhadap rekruitasi yang dilakukan karyawan dan serta bagaimana reaksi karyawan terhadap perubahan gaya manajerial perusahaan. (Okky Adiana)

Loading...