Pesan Seorang Pendeta agar Melindungi Muhammad

Pesan Seorang Pendeta agar Melindungi Muhammad

KITAB-KITAB sirah menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tatkala telah berusia tujuh belas tahun (ada pula yang menyebut berusia dua belas tahun lebih dua bulan sepuluh hari), beliau pergi ke Syam bersama pamannya Abu Thalib untuk melakukan perdagangan dan di sana beliau bertemu dengan pendeta Buhaira di mana ia seorang alim dari Nashrani, paham ajaran Nashrani, ia pun mengenal dengan benar siapakah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi dari Abu Musa Al-Asyari dia berkata, "Abu Thalib pergi ke Syam dengan diikuti oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama dengan tokoh-tokoh Quraisy dan setelah mendekati seorang pendeta, mereka beristirahat, kemudian membiarkan kendaraan mereka mencari kehidupannya. Kemudian pendeta itu keluar menemui mereka, sementara selama ini dia tidak pernah sekali pun menghiraukan kafilah perdagangan itu. Pendeta itu menelusuri tempat mereka berteduh, hingga menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan memegang tangannya. Pendeta tersebut berkata, "Inilah Pemimpin Manusia, Inilah Rasul alam semesta, Dia diutus oleh Allah sebagai pembawa rahmat Alam semesta."

Pemuka Quraisy berkata kepada sang pendeta, "Apa dasar kamu, wahai Buhaira?" Dia berkata, "Waktu kamu meninggalkan Aqabah, maka tidak ada batu dan pohon kecuali semuanya bersujud kepadanya. Batu dan pohon tersebut tidak pernah bersujud, kecuali untuk seorang Nabi dan saya mengenalnya dengan tanda kenabian di bawah pundaknya seperti buah apel." Kemudian pendeta tersebut pulang dan membuatkan makanan untuk orang Quraisy.

Sewaktu mereka mendatangi undangannya, Nabi berada di antara unta-unta. Buhaira berkata, "Panggil dia bersama kalian, kemudian dia datang dan awan telah menaunginya." Setelah mendekat ke kaum, ternyata naungan pohon itu telah melindungi tokoh Quraisy dan tatkala Nabi duduk, tiba-tiba teduh pohon itu beralih ke Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Buhaira berkata, "Lihatlah bagaimana teduh pohon itu beralih menaunginya."

Kemudian dia berpesan agar tidak membawa Muhammad ke Romawi, karena kalau mereka melihat Muhammad, maka mereka pasti mengenalinya dan akan membunuhnya. Kemudian tiba-tiba ada tujuh orang yang datang dari Romawi, Buhaira menemuinya dan berkata, "Apa yang menyebabkan kalian datang?" mereka berkata, "Kami datang karena pada bulan ini, ada seorang Nabi yang telah melakukan perjalanan dan tidak ada jalan, kecuali telah ditelusuri dan kami telah mendapatkan informasi bahwa dia melintasi jalan kamu ini."

Buhaira berkata, "Bagaimana pendapat kalian, jika Allah berkehendak atas sesuatu, adakah seorang dari umat manusia ini yang mampu untuk menahannya?" Mereka berkata, "Tidak mungkin." Buhaira berkata, "Kalau begitu baiatlah dia." Mereka membaiatnya dan kemudian bertanya, "Siapakah walinya?" Mereka berkata, "Abu Thalib." Abu Thalib senantiasa berusaha hingga dia mengambil kembali Muhammad dan mengutus bersamanya Abu Bakar dan Bilal, dan pendeta Buhaira membekalinya dengan kue dan minyak." (HR. Tirmidzi, no. 3620. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa secara sanad, hadits ini dhaif. Syaikh Al-Albani sendiri menyatakan hadits ini shahih, namun tidak ada penyebutan Bilal karena termasuk riwayat yang munkar.)

[baca lanjutan]