Pos Gandeng BGR Logistics

Pos Gandeng BGR Logistics
Antara

INILAH, Bandung - Seiring perkembangan teknologi, industri logistik kini merupakan bisnis yang trennya terus meningkat. PT Pos Indonesia sebagai badan usaha milik negara (BUMN) pun akan memperkuat layanan dan bisnis logistik.

Untuk itu, PT Pos Logistik Indonesia sebagai anak perusahaan PT Pos Indonesia melakukan terobosan kolaborasi. Sinergi BUMN itu ditandai dengan nota kesepahaman antara PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) Logistics dengan PT Pos Indonesia dan PT Pos Logistik Indonesia tentang pemanfaatan potensi masing-masing pihak.

Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Direktur Utama BGR Logistics M Kuncoro Wibowo, Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono, dan Direktur Pos Logistik Indonesia Yuzon Erman di kantor Kementerian BUMN. 

“Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan bentuk sinergi BUMN dalam rangka optimalisasi jasa dan layanan logistik secara bersama-sama,” kata Kuncoro dikutip Antara, Kamis (18/7/2019).

Kuncoro menyebutkan, kerja sama itu didasari salah satunya karena BGR Logistics kini mengembangkan bisnis ritrl berbasis aplikasi untuk limbah elektronik rumah tangga atau yang akan disebut aplikasi Barang Bekas Elektronik Rumah Tangga (Babel).

“Dengan jaringan Pos Indonesia yang memiliki kantor perwakilan hingga di area kota, tentunya akan menjadi potensi jika adanya kerja sama antara BGR Logistics dengan Pos Indonesia yang dapat berperan menjadi pengambil nantinya,” ujarnya.

Menurutnya, dengan sinergi ini BGR Logistics dan Pos Indonesia juga dapat menjalankan kerja sama pendayagunaan aset seperti pengembangan pusat logistik berikat (PLB) oleh Pos Indonesia di kawasan milik BGR Logistics.

Dari sisi informasi teknologi, BGR Logistics dan Pos Logistik dapat saling melakukan transfer pengetahuan terkait warehouse management system (WMS) yang dimiliki agar dapat dikembangkan lebih baik lagi ke depannya untuk menunjang kegiatan bisnis logistik masing-masing perusahaan.

“Selain itu, BGR Logistics dengan Pos Indonesia dan Pos Logistik dapat juga melakukan kerja sama penanganan pekerjaan logistik secara bersama-sama untuk berbagai komoditas dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik agar senantiasa dapat meningkatkan nilai tambah bagi masing-masing perusahaan,” jelasnya.

Terpisah, Manager Pengembangan dan Pembinaan Agen Pos PT Pos Indonesia Mochamad Alie mengatakan, pihaknya saat ini menggenjot peningkatan bisnis paket. Ini dilakukan seiring dengan maraknya bisnis e-commerce yang identik dengan bisnis paket.

Menurutnya, pasar e-commerce nilainya kini mencapai Rp20-30 triliun. Sejauh ini, Pos Indonesia hanya mendapatkan 4%. Pada 2018 lalu, pihaknya ditargetkan mampu mendapatkan Rp3,4 triliun namun hanya mampu merealisasikan sebesar Rp2,8 triliun. 

“Tahun ini, untuk pasar kurir itu targetnya sebesar Rp4,1 triliun. Sampai Juni 2019, realisasinya baru Rp1,7 triliun. Untuk itu, kita akan menggenjot bisnis paket dan kurir ini,” ucapnya saat diskusi Ngariung Bareng Komunitas (Ngaretas) bertema ‘Meneropong Bisnis Jasa Pengiriman Paket’ di Inilah Koran, belum lama ini.

Alie menegaskan, untuk menggenjot bisnis tersebut pihaknya mengembangkan pola keagenan. Strategi bisnis tersebut dilakukan untuk mengepung bisnis e-commerce yang kini merajalela.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi W Setijono mengatakan saat ini BUMN ini bertransformasi dari mail oriented company ke logistic oriented company. Perkembangan teknologi yang pesat terjadi saat ini membuat pergeseran pasar di berbagai sektor bisnis. Tak terkecuali bisnis captive market yang dijalani perusahaannya. 

Landscape bisnis yang dinamis itu diakuinya harus menjadi peluang yang kudu diambil ‘raksasa’ agar tidak ketinggalan zaman. Pos saat ini mengubah paradigma lama. Caranya, yakni bertransformasi menjadi perusahaan logistik dengan dukungan jaringan yang mencapai 4.800 kantor se-Indonesia.