Larangan Pakaian Bersulam Sutra dan Dicelup Ushfur

Larangan Pakaian Bersulam Sutra dan Dicelup Ushfur
SEBAGIAN orang menerjemahkan kata muashfar dengan pakaian yang dicelup warna kuning. Sehingga kesimpulan yang ditarik adalah memakai pakaian warna kuning itu haram. Namun sebenarnya ini hanyalah salah kaprah, karena maksud pakaian muashfar sebagaimana diterangkan dalam hadits tidaklah demikian.

SEBAGIAN orang menerjemahkan kata muashfar dengan pakaian yang dicelup warna kuning. Sehingga kesimpulan yang ditarik adalah memakai pakaian warna kuning itu haram. Namun sebenarnya ini hanyalah salah kaprah, karena maksud pakaian muashfar sebagaimana diterangkan dalam hadits tidaklah demikian.

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah melihatnya memakai dua potong pakaian muashfar (yang dicelup ushfur), lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir, maka janganlah kamu memakainya." (HR. Muslim no. 2077)

Dalam riwayat lainnya disebutkan, dari Abdullah bin Amru, ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melihatnya sedang mengenakan dua potong pakaian yang dicelup ushfur, maka beliau bersabda, "Apakah ibumu yang menyuruh seperti ini?" Aku berkata, "Aku akan mencucinya". Beliau bersabda, Jangan, akan tetapi bakarlah. (HR. Muslim no. 2077)

Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang berpakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, memakai pakaian yang dicelup ushfur, memakai cincin emas, dan membaca Al Quran saat ruku." (HR. Muslim no. 2078)

Dalam Al Mawsuah Al Fiqhiyah disebutkan, "Para pakar fiqih sepakat dibolehkannya memakai pakaian berwarna kuning asalkan bukan hasil dari celupan ushfur atau zafaron." (Al Mawsuah Al Fiqhiyyah, 6: 133)

Dari sini, jika pakaian kuning berasal dari zat warna sintetik seperti pada pakaian yang kita temukan saat ini, maka seperti itu tidaklah masalah. Wallahu alam. Sedangkan sebagian orang menerjemahkan pakaian "muashfar" (yang dicelup ushfur) dengan artian pakaian warna kuning, kami rasa ini keliru, karena ushfur lebih dominan menghasilkan warna merah. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, "Warna dominan yang dihasilkan oleh ushfur adalah warna merah." (Fathul Bari, 10: 305)

Intinya, ushfur adalah sejenis tumbuhan dan dominan menghasilkan warna merah. Sedangkan pakaian warna kuning tidaklah masalah, lebih-lebih jika menggunakan pewarna sintetik.

Kami pernah menanyakan kepada Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan ulama senior di Saudi Arabia dan anggota komisi fatwa di KSA-, "Di negeri kami, beberapa kitab terjemahan menerjemahkan kata muashfar dengan pakaian berwarna kuning, apakah seperti ini benar?" Jawab beliau hafizhohullah dalam Majelis kajian Al Muntaqho, "Tidak demikian. Pakaian muashfar itu menghasilkan warna merah, bukan warna kuning sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya dalam pembahasan." (Demikian jawaban beliau dan terjemahan dari kami secara bebas) [Tanya jawab dalam Durus Al Muntaqo, 26 Rabiul Awwal 1433 H].

Inilah kekeliruan beberapa buku terjemahan atau dari beberapa web mengenai pengertian kata muashfar. Moga tulisan sederhana ini bisa meluruskannnya. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. [Ummul Hamam]