Polres Bogor Ungkap Pabrik Ekstasi di Sukahati Cibinong

Polres Bogor Ungkap Pabrik Ekstasi di Sukahati Cibinong
Sat Narkoba Polres Bogor mengungkap keberadaan pabrik ekstasi industri di Cibinong. (Reza Zurifwan)

INILAH, Cibinong- Sat Narkoba Polres Bogor mengungkap keberadaan pabrik ekstasi industri di Gang Swadaya, Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor. Dari kasus ini tiga tersangka terancam pidana penjara seumur hidup.

"Tiga tersangka MS, DK dan ES yang berusia 29-40 tahun kami kenakan pasal 112 dan pasal 114  Undang-Undang Narkotika nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman 20 tahun hingga seumur hidup, selain di Sukahati, Cibinong dua orang pelaku lainnya kami tangkap di kecamatan lain di Kabupaten Bogor," ujar Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam Wijaya kepada wartawan, Jumat (19/7/2019).

Ia menerangkan setelah pemilik pabrik ekstasi MR usia (29 tahun) ditangkap pada Rabu (20/3) Maret dini hari atau pukul 01.00 WIB, jajarannya pun langsung melakukan pengejaran tersangka lainnya dan juga melakukan pemeriksaan kandungan ekstasinya.

"Kenapa kasus ini baru dirilis karena kami melakukan pengembangan untuk menjerat tersangka lainnya dan juga menunggu hasil laboratarium, dari hasil laboratarium ekstasi yang kami amankan mengandung metaphetamin, paracetamol dan kopi," terangnya.

Pria alumni SMA 3 Kota Bogor ini menjelaskan bahwa pabrik industri rumahan ini setiap harinya memproduksi 500 butir ekstasi dan diedarkan di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek).

"Menurut pengakuan tersangka MR setiap hari pabrik rumahan ekstasi ini menproduksi 500 butir atau 15.000 butir perbulan, namun saat diamankan kami hanya mengamankan 50 butir ekstasi, alat pembuatan, cairan  dan bahan baku sabu lainnya. Karena bukti, keterangan dan betkasnya sudah siap hari ini juga ketiga tersangka kami serahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor untuk selanjutnya disidang di Pengadilan Negeri Cibinong," jelas AKP Andri.

Ia menuturkan dari segi efek penyalahguna narkotika, ekstasi lokal ini lebih berbahaya dari ekstasi import karena pembuatnya bukanlah berprofesi sebagai apoteker atau hanya main campur saja termasuk memasukkan spirtus kedalam kandungan ekstasinya.

"Ekstasi lokal ini lebih berbahaya bagi penyalahguna narkotika karena  segala macam cairan terlarang bisa terkandung didalamnya," tuturnya.

AKP Andri melanjutkan bahwa tersangka MS dibantu DK memesan perangkat utama alat cetak ekstasi dari luar negeri lalu dirakit di sebuah bengkel bubut di wilayah Bumi Tegar Beriman.

"Selain berperan sebagai pemilik pabrik dan bandar, tersangka MS dan DK juga otak dari perakitan alat cetak ekstasi. Sementara tersangka ES bertugas sebagai perakit alat cetak ekstasi tersebut," lanjut AKP Andri. (Reza Zurifwan)