Waspadai Puncak Kemarau di Bulan Agustus

Waspadai Puncak Kemarau di Bulan Agustus
Rapat koordinasi mewaspadai puncak kemarau. (Istimewa)

INILAH, Soreang - Suhu di Kabupaten Bandung semakin terasa dingin di musim kemarau, bahkan hingga mencapai 18 derajat Celcius di malam hari.

Suhu yang dingin dalam beberapa hari terakhir di Bandung Raya maupun secara umum di Jawa Barat (Jabar), merupakan fenomena yang biasa atau wajar yang menandakan datangnya periode musim kemarau.

Hal tersebut diungkapkan Rasmid, Kepala Data dan Informasi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) Bandung.

Dari pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Bandung tercatat selama Juli 2019 ini, suhu udara terendah tercatat mencapai 16,4 derajat Celcius pada tanggal 12 Juli 2019.

Sedangkan di lokasi dengan elevasi yang semakin tinggi seperti di Pos Observasi Geofisika Lembang (1.241 meter) tercatat 13,0 derajat Celcius pada tanggal 16 Juli 2019.

“BMKG memprediksi, kemarau sudah terjadi sejak bulan Juli lalu hingga September, dengan puncaknya di bulan Agustus. Maka diimbau kepada masyarakat untuk bijak menggunakan air,” ucapnya, saat dikonfirmasi , Selasa (16/7/2019).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Akhmad Djohara mengungkapkan, sebagian wilayah di Kabupaten Bandung sudah dinyatakan terdampak kekeringan. Sejak bulan Juni hingga Juli 2019, sudah 10 kecamatan menyampaikan laporan kejadian bencana kekeringan, dan krisis air bersih.

Akhmad Djohara mengatakan, beberapa waktu lalu BPBD telah mengeluarkan surat edaran yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah, mengenai imbauan kepada para camat agar melaporkan kondisi kekeringan di wilayah masing-masing.

“Sebelum penetapan status tanggap darurat kekeringan, kita buat surat edaran, agar para camat melaporkan kondisi di wilayah. Ini penting dilakukan, untuk mengetahui potensi kekeringan yang saat ini terjadi. Walau baru sebagian, kami tetap melakukan koordinasi dan minggu depan akan melakukan rakor untuk langkah selanjutnya,” tandasnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Bupati Bandung H. Dadang M. Naser mengimbau kepada seluruh aparat wilayah di Kabupaten Bandung agar sigap dalam merespons apabila mengetahui atau menemukan adanya potensi terjadinya bencana di wilayah masing-masing.

Lebih lanjut Bupati mengatakan bencana alam adalah tanggung jawab semua pihak, maka dalam penanganannya diperlukan kepedulian dan kerja bersama melalui sinergitas lintas sektor.

“Tujuannya ya untuk mengurangi derita sesama, mengurangi dampak dan risiko korban juga meminimalisir kerugian yang disebabkan bencana itu sendiri. Makanya semua harus sabilulungan bahu-membahu, antara pemerintah, masyarakat juga dunia usaha,” pungkasnya. (Agus SN)