Nggak Garing...Seribu Penari Ramaikan HUT Purwakarta

Nggak Garing...Seribu Penari Ramaikan HUT Purwakarta

INILAH, Purwakarta – Pemkab Purwakarta, kerap membuat sebuah event unik saat moment perayaan hari jadi wilayah ini. Spirit kebudayaan paling ditonjolkan dalam kegiatan ini. Tak heran, di momen tersebut wilayah ini bak lokasi berkumpulnya para seniman, baik seniman lokal maupun luar daerah.

Banyak masyarakat yang beranggapan jika rangkaian perayaan hari jadi Purwakarta tahun ini cenderung garing. Mereka menilai, kegiatan hari jadi kali ini seperti kembali ke masa 10 tahun sebelumnya. Pasalnya, kali ini tidak ada pesta rakyat yang diisi dengan kegiatan yang menyedot perhatian skala nasional apalagi Internasional.

Sabtu (20/7/2019) malam, pemerintah setempat kembali menggelar kegiatan untuk yang ketiga kalinya sebagai bagian dari perayaan HUT Purwakarta ke 188 dan Kabupaten Purwakarta ke 51. Kali ini, tema kebudayaan lebih menonjol.

Pasalnya, dalam kegiatan yang melibatkan massa banyak itu pemkab Purwakarta menggandeng sedikitnya 23 sanggar tari di Jawa Barat. Para penari dari sanggar-sanggar itu bergabung hingga jumlahnya mencapai 1.000 penari. Mereka kemudian menari Jaipongan kolosal secara bersamaan di satu lokasi. Kegiatan tersebut terkonsentrasi di pusat kota, yakni di Jalan Jendral Sudirman.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mengklaim, antusias masyarakat untuk turut memeriahkan perayaan hari jadi wilayahnya ini ternyata cukup tinggi. Terbukti, di kegiatan malam tadi, baik peserta maupun pengunjung cukup membludak untuk menyaksikan gelaran tersebut.

“Malam tadi ada penampilan dari 1.000 penari jaipongan kolosal dari 23 sanggar di Jawa Barat. Berbarengan dengan kegiatan itu, kami juga menyiapkan stan khusus makanan khas Jawa Barat yang berbahan dasar beras. Salah satunyakue putu. Alhamdulillah, animo masyarakat cukup tinggi,” ujar Anne kepada INILAH.

Menuru Anne, membludaknya peserta dan pengunjung mengisyaratkan adanya apresiasi masyarakat terhadap sebuah nilai kebudayaan khususnya yang ada di Jawa Barat. Dia berharap, kegiatan ini bisa sekaligus menjadi proses mengingatkan masyarakat akan seni tradisi yang dimiliki sebagai kekayaan di Jawa Barat.

Dengan begitu, sambung dia, sudah barang tentu pemerintah pun harus turut andil untuk menjaga kelestarian kesenian ini. Salah satunya, dengan memberi ruang bagi para seniman untuk mengekspresikan bakat seninya. (asep mulyana)