Soal Tema Nyi Pohaci, Anne : Itu Hanya Branding Pertanian

Soal Tema Nyi Pohaci, Anne : Itu Hanya Branding Pertanian
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika. (Asep Mulyana)

INILAH, Purwakarta – Pemkab Purwakarta, saat ini sedang melangsungkan beberapa kegiatan pesta rakyat sebagai bagian dari perayaan hari jadi Purwakarta ke 188 dan Kabupaten Purwakarta ke 51. ‘Nyi Pohaci’ menjadi tema yang diangkat dalam kegiatan HUT tersebut.

Belum lama ini, tema HUT Purwakarta sempat menjadi perbincangan hangat masyarakat di wilayah itu. Mereka beranggapan, pemkab terlalu gegabah dalam mengambil tema tersebut. Alhasil, beragam tafsir dan kontoversi pun bermunculan menyikapi tema ‘Nyi Pohaci’ ini.

Bahkan, salah satu ormas Islam menyimpulkan jika Tema Nyi Pohaci Festival dianggap sebagai bentuk kemusyrikan dan bentuk pemujaan selain kepada Allah. Apalagi, sosok Nyi Pohaci dipandang sebagai tokoh takhayul, dongeng yang direpresentasikan sebagai dewa kesuburan.

Terkait anggapan tersebut, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika pun akhirnya angat bicara. Dia menjelaskan, maksud ‘Nyi Pohaci’ yang diangkat menjadi tema hari jadi wilayahnya ini menurutnya hanya sebatas branding untuk mengangkat pertanian, khususnya di Purwakarta.

“Tidak ada sama sekali menganggungkan ketokohan. Tema Nyi Pohaci ini, hanya sebuah branding karena kami ingin mengangkat pertanian di Purwakarta khusunya beras. Kalau namanya jadi Festival Beras misalnya, kan tidak lucu. Nanti yang ada malah ketuker dengan perelek,” ujar akhir pekan kemarin. 

Anne pun memastikan, tema ‘Nyi Pohaci’ hanya sebatas upaya dirinya mempromosikan sektor pertanian di wilayahnya, supaya masyarakat sadar dan paham akan pentingnya menjaga areal pesawahan yang hari ini mulai tergerus seiring perubahan pola pikir masyarakat.

“Branding Nyi Pohaci, itu menurut saya sama saja dengan nama atau tema yang dibuat oleh daerah lain. Hanya saja, karena berada di Jawa Barat, jadi nama Sunda yang dipilih. Kalau di kabupaten atau kota lain, mungkin membrandingnya dengan bahasa inggris. Kalau di kita dengan bahasa sunda,” seloroh dia. (Asep Mulyana)