Sawah Puso di Purwakarta Kian Meluas

Sawah Puso di Purwakarta Kian Meluas
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Purwakarta - Dampak musim kemarau, masih dirasakan sejumlah petani di Kabupaten Purwakarta. Dinas Pangan dan Pertanian setempat melansir, sampai saat ini sudah ada 65 hektare areal persawahan di wilayah tersebut mengalami gagal panen akibat puso. 

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan menuturkan, sawah yang mengalami puso ini semakin meluas. Sebelumnya, hanya 10 hektare saja yang dilaporkan, saat ini sudah mencapai 65 hektare.
 
“Hingga pekan ketiga bulan Juli ini sudah ada 65 hektare sawah yang mengalami puso,” ujar Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan kepada INILAH, akhir pekan kemarin.

Agus menjelaskan, lahan yang mengalami puso tersebut usia padinya antara 21-90 hari. Karena terdampak kekeringan, padi-padi jadi tak bisa diselamatkan alias gagal panen. 

Selain yang sudah puso, kata dia, ada sekitar 1.233 hektare lahan pertanian yang kondisi padinya sudah menua juga terancam mengering. Ini sedang kita awasi juga,” jelas dia.

Menurut dia, perlu penanganan cepat untuk menyelamatkan padi-padi ini dari ancaman kekeringan. Namun, taka da pilihan lain selain menunggu turun hujan. Mengingat, lahan-lahan sawah yang terancam kekeringan ini sebagian besar ada di kawasan tadah hujan. “Lahan-lahan ini sangat ketergantungan akan air hujan,” kata dia.

Adapun upaya lain pihaknya bersama petani dan unsur terkait untuk mengatasi kekeringan ini, salah satunya dengan mengidentifikasi sumber mata air yang terdekat dengan wilayah tadah hujan ini. Jika sudah ada sumber mata air, pemerintah akan memberikan bantuan pompa air.

“Kami juga akan mendorong petani untuk ikut asuransi pertanian,” tambah dia.

Saat ini, kata dia, pihaknya telah mendapat batuan terbaru dari Kementerian Pertanian untuk petani Purwakarta. Bantuannya, berupa selang air sepanjang 7.300 meter. Dengan adanya selang air ini, diharapkan pemanfaatan pompa menjadi maksimal lagi.

“Bantuan selang air dari Kementerian Pertanian ini, sebagai upaya tanggap darurat kekeringan,” kata dia.

Pihaknya juga punya strategi penangan kekeringan. Lokasi yang terkena puso dan mengikuti premi asuransi, telah di lakukan pengurusan  klaim asuransi usaha tani padi (AUTP). Bagi yang tidak mengikuti AUTP dan memungkinkan masih bisa ditanami, diupayakan mendorong agar dilakukan peralihan jenis tanaman. Dari padi ke palawija. (Asep Mulyana)

Loading...