Hati Harus Tulus

Hati Harus Tulus
Ilustrasi/Net

SAUDARAKU, pernahkah kita bayangkan betapa sebahagian besar dari urusan hidup kita sebenarnya bukan kita sendiri yang mengendalikan. Pernahkah kita hitung-hitung betapa hanya sebagian kecil saja, bahkan sangatlah sedikit urusan hidup yang terjadi karena keterlibatan tangan kita secara langsung.

Perhatikanlah menu sarapan kita setiap pagi. Makan yang ada di atas piring kita, coba perhatikan dan bayangkan urai satu demi satu. Garamnya dari laut di selatan, nasinya dari sawah di barat, sayurnya dari kebun di timur, dan ikannya dari kolam di utara. Sebelumnya mereka berada di tempat masing-masing dan saling berjauhan. Kemudian, datang kepada kita, kita tinggal menikmatinya.

Hal itu terjadi tiada lain adalah karena izin Allah Swt. Sungguh banyak hal yang terjadi karena kasih sayang Allah kepada kita. Allah yang mengatur matahari terbit dan terbenam dengan teratur, sehingga kita mendapat energi dari sinarnya. Allah yang mengatur detak jantung, sehingga kita tak pernah khawatir lupa mendetakkannya. Subhaanallah!

Sungguh indah manakala kehidupan ini Allah Swt. yang mengurus. Dan, sesungguhnya memang tak ada kejadian di dunia ini kecuali terjadi atas izin Allah Swt. Oleh sebab itu, kita berdoa agar setiap sendi kehidupan kita diurus oleh Allah Swt., diberikan takdir terbaik oleh-Nya bagi kita.

Allah Swt. berfirman, “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas semata-mata karena (menjalankan) agama..” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)

Langkah yang perlu kita lakukan agar hidup ini diurus oleh Allah Swt. adalah menjaga ketulusan hati. Atau keikhlasan. Sebagaimana ayat di atas, Allah Swt. tidak memerintahkan kita untuk beraktifitas kecuali secara ikhlas. Hanya orang yang ikhlas yang diterima amalnya. Berarti amal yang diiringi keikhlasanlah yang Allah sukai.

Saudaraku, kita ini adalah ciptaan Allah, kita ini milik Allah, kita tinggal di planet bumi yang juga milik Allah, apapun yang kita inginkan semuanya adalah milik Allah Swt. Dan, tidak ada peristiwa kecuali terjadi atas izin Allah Swt.

Jadi apabila kita berharap Allah Swt. mencukupi kita, tapi kita beramal dengan hati yang berharap pujian manusia, berbuat dengan hati yang mengharap sanjungan, penghargaan dan kedudukan dari manusia, maka sesungguhnya manusia itu tidak memiliki apa-apa. Manusia tidak mampu memberikan manfaat juga tidak bisa mendatangkan keburukan, kecuali atas izin Allah Swt.

Jika saja manusia dan jin bersatu hendak memberikan satu butir beras pun kepada kita, jika Allah tidak menghendaki, maka pasti tidak akan terjadi. Begitupun jika manusia dan jin bersatu hendak mencelakai kita, maka satu helai rambut pun tidak akan jatuh dari tubuh kita.

Jadi percuma saja keinginan untuk dipuji orang lain karena itu hanya akan merusak niat kita dan menghanguskan nilai dari amal kita. Dan jikapun pujian itu datang kepada kita, perhatikan saja ternyata pujian itu tidak berarti apa-apa, tidak memberikan pengaruh apa-apa, kecuali hati yang cenderung berbelok dan terbuai.

Oleh karena itulah, mari terus periksa niat kita, periksa hati kita, untuk selalu beramal dengan ikhlas, hanya mengharap ridho Allah Swt. Cukuplah Allah yang memperhatikan kita. Ada manusia yang melihat ataupun tidak, yakinlah bahwa Allah Swt. selalu melihat kita, sekecil apapun perbuatan kita.

Sekalipun banyak pujian datang kepada kita, jika Allah Swt. tidak ridho, maka sia-sia saja. Sebaliknya, sekalipun banyak cacian mengarah kepada kita, namun Allah Swt. ridho kepada kita, maka sungguh semua cacian itu tiada artinya.

Tak perlu berharap ungkapan terimakasih dari manusia, tak usah menunggu-nunggu datangnya pujian dari manusia, cukuplah Allah Swt. sebagai alasan dari setiap amal kita. (Inilah.com)