Duh, Sungai Cileungsi Hitam dan Bau

Duh, Sungai Cileungsi Hitam dan Bau
Sungai Cileungsi yang dulu bersih, kini hitam dan bau. Ada dugaan, limbah yang membuatnya pekat juga berasal dari perusahaan. (Reza Zurifwan)

INILAH, Bogor- Sungai Cileungsi yang dulu bersih, kini hitam dan bau. Ada dugaan, limbah yang membuatnya pekat juga berasal dari perusahaan.

Rombongan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor menyisihkan waktu liburannya, Minggu (21/7). Mereka mendatangi tiga titik lokasi di Sungai Cileungsi. Uji petik harus dilakukan setelah adanya laporan  pencemaran lingkungan di sungai itu.

Tiga titik yang didatangi itu adalah Jembatan Wika, Cikuda, dan Jembatan Parigi Villa Nusa Indah di Gunung Putri. Di sana, mereka melakukan pengukuran dengan berbagai alat yang dibawa. Hasilnya?

“Dari hasil pantauan dan uji petik di tiga lokasi, secara kasat mata air Sungai Cileungsi tercemar karena berwarna hitam pekat dan berbau busuk. Tapi agar lebih pasti, kami menunggu hasil pemeriksaan laboratarium yang akan keluar 14 hari mendatang,” ucap Kepala DLH Kabupaten Bogor, Panji Ksatriyadji ketika dihubungi INILAH.

Dia menuturkan jajajarannya sudah mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan pembuang limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) atau pencemar lingkungan. Tahun lalu saja, ada 70 perusahaan yang diawasi dan ditindak oleh kepolisian dan disidang di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong.

“Dari 70 perusahaan, 58 perusahaan yang diawasi oleh Tim Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tujuh perusahaan yang diproses oleh kepolisian dan 15 perusahaan yang didenda Rp15 juta karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Ketertiban Umum nomor 4 tahun 2016,” tuturnya.

Melihat sanksi yang ringan dan atas petunjuk hakim di PN Cibinong, DLH ataupun Pemkab Bogor akan melimpahkan kasus pencemaran lingkungan hidup ini ke pihak Polda Jawa Barat ataupun Mabes Polri.

“Agar ada efek jera dan tidak ada lagi pembuangan limbah B3 di Sungai Cileungsi ataupun lainnya, kami akan merekomendasikan kasus ini atau sejenis untuk diancam dengan pasal 1 angka 14 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 dimana hukuman penjaranya 3 tahun atau denda Rp 3 milyar serta dicabut izin usahanya. Oleh karena itu kasus ini akan kami limpahkan ke pihak kepolisian,” tegas Panji.

Sementara itu, Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) Puarman menambahkan beberapa hari ini Sungai Cileungsi untuk kesekian kalinya kembali berwarna hitam pekat dengan bau menyengat.

“Menurut warga Villa Nusa Indah 5 Gunung Putri, berubahnya air Sungai Cileungsi dan berbau busuk  begitu terjadi sejak Jumat malam dan pagi ini sedikit mereda,” keluh Puarman.

Pria asli Sumatera Barat ini menambahkan setelah mendapat kabar air Sungai Cileungsi kembali  tercemar, dengan menggunakan masker, dirinya bersama teman-teman langsung turun ke bibir sungai.

“Warna air Sungai Cileungsi berwarna hitam pekat dengan baunya menyengat atau membusuk. Saya lalu memasukkan contoh air tercemar tersebut dalam gelas air mineral untuk menjadi bahan laporan ke DLH Kabupaten Bogor,” tambahnya.

Puarman melanjutkan akibat bau air Sungai Cileungsi yang membusuk itu, seorang ibu hamil pun harus diungsikan ke rumah orang tua suaminya, karena pasca mencium bau busuk tersebut kepalanya langsung pusing dan muntah-muntah.

“Istrinya yang sedang hamil pusing dan muntah-muntah karena tidak tahan bau air Sungai Cileungsi hingga  tiap pagi diungsikan ke rumah mertuanya. Ketahuannya pembuangan limbah B3 ini terjadi di setiap musim kemarau. Kami minta ada tindakan lebih tegas dari instansi terkait,” lanjut Puarman. (Reza Zurifwan)